Dosen Atikah Dorong Literasi Kritis di Ruang Kelas
Sumber Foto: Tribun-medan.com
Nalar Data

Dosen Atikah Dorong Literasi Kritis di Ruang Kelas

Di tengah perubahan zaman yang cepat, pentingnya kecakapan multiliterasi di kalangan mahasiswa semakin mendesak. Puteri Atikah, seorang dosen di sebuah perguruan tinggi negeri dan Pelaksana Harian Yayasan PAUD Atikah, berkomitmen untuk menumbuhkan literasi mahasiswa melalui aktivitas di ruang kelas. Ia mendorong mahasiswanya untuk aktif berargumentasi dan berpikir kritis.

"Sebagai akademisi, saya selalu menuntut mahasiswa untuk aktif bertanya dan berargumentasi di ruang kelas. Hal ini bertujuan untuk mengasah kemampuan berpikir kritis mereka," ujar Atikah saat wawancara dengan Tribun Medan.

Atikah menekankan bahwa setiap argumentasi yang diajukan oleh mahasiswa harus berdasarkan fakta dan data. Metode ini diterapkan agar ruang kelas menjadi ajang kontestasi ide dan pemikiran yang tetap berlandaskan pada azas-azas ilmiah.

"Azas-azas ilmiah adalah ciri khas kaum intelektual," tambahnya.

Namun, Atikah menyatakan keprihatinannya terhadap kondisi dunia pendidikan saat ini. Ia merasa bahwa budaya intelektual di lembaga pendidikan semakin menurun, dengan minimnya kelompok diskusi, klub buku, dan kegiatan akademis lainnya. Sebaliknya, yang muncul adalah organisasi dengan basis etnis, agama, ras, dan asal-usul daerah.

"Bagaimana akademisi dapat mendekatkan diri dengan data, fakta, dan hasil penelitian ilmiah jika mereka tidak merujuk atau bahkan tidak percaya pada data dan hasil penelitian? Apakah lembaga pendidikan masih menjadi sarang kaum intelektual?" tanya Atikah.

Dalam kapasitasnya sebagai pemilik sekolah, Atikah berusaha membangun budaya literasi pada anak-anak usia dini. Di sekolahnya, ia mengadakan program Kelompok Baca Keluarga, di mana orangtua didorong untuk membacakan buku kepada anak-anak mereka.

"Saya memiliki kesempatan besar untuk memberi masukan kepada orangtua siswa-siswi TK tentang pentingnya literasi. Orangtua seharusnya tidak hanya memaksa anak untuk membaca di usia dini, tetapi juga membangun budaya membaca di rumah," jelas Atikah.

Menurutnya, budaya literasi adalah salah satu aspek penting dalam membangun budaya intelektual. Selain itu, kemajuan teknologi juga memberikan peluang untuk memperkuat literasi. Atikah menegaskan bahwa teknologi tidak perlu dipertentangkan dengan budaya literasi, melainkan dapat digunakan untuk mendorong akses terhadap buku elektronik, jurnal ilmiah, dan hasil jurnalistik investigasi.

"Teknologi harus digunakan untuk kepentingan produktif, bukan hanya konsumtif," tegasnya.

Ketika ditanya mengenai peran gender perempuan dalam dunia pendidikan, Atikah menjelaskan bahwa masih ada pandangan patriarki yang menganggap perempuan sebagai makhluk yang lebih emosional dan irasional.