Walhi Kritik Pernyataan Pemerintah Indonesia Tentang Deforestasi di COP 29
Sumber Foto: KBR.ID
Logika Fakta

Walhi Kritik Pernyataan Pemerintah Indonesia Tentang Deforestasi di COP 29

Jakarta - LSM Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menyoroti pernyataan Hashim Djojohadikusumo, pimpinan delegasi Indonesia di COP 29, terkait isu deforestasi yang ditimbulkan oleh proyek lumbung pangan atau food estate. Manajer Kampanye Hutan dan Kebun Walhi Nasional, Uli Arta Siagian, menilai pernyataan tersebut bertentangan dengan fakta yang ada dan menunjukkan kesalahan logika dari pemerintah Indonesia.

Dalam pidatonya, Hashim mengklaim bahwa pemerintah di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto berkomitmen untuk mengembalikan hutan seluas 12,7 juta hektare yang telah rusak. Namun, Uli mempertanyakan asal-usul lahan tersebut dan tanggung jawab pemulihannya. "Di mana 12,7 juta hektare lahan yang akan direforestasi tersebut? Apakah tanggung jawabnya diserahkan kepada pihak yang selama ini melakukan pengrusakan, yaitu perusahaan dan pemerintah sendiri?" ujarnya.

Uli juga mengungkapkan kecurigaannya bahwa lahan untuk reforestasi mungkin akan diserahkan kepada masyarakat melalui perhutanan sosial. "Jika ini benar, negara akan mengalihkan tanggung jawab pemulihan lingkungan kepada rakyat, sementara korporasi yang merusak lingkungan tidak mendapatkan sanksi. Ini sangat tidak adil," tambahnya.

Lebih lanjut, Uli menyatakan kekhawatirannya mengenai pemilihan lahan untuk reforestasi yang bisa dilakukan secara sembarangan. "Kita harus mempertimbangkan hak masyarakat yang selama ini berupaya untuk memulihkan wilayah tersebut. Jika kita melakukan konservasi hutan tetapi melanggar hak masyarakat, apa gunanya?" jelasnya.

Uli menegaskan bahwa tindakan merusak hutan untuk pembangunan food estate adalah salah. "Deforestasi adalah deforestasi. Mengubah hutan tetap akan berdampak negatif pada iklim dan lingkungan, apapun alasannya," tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Hashim Djojohadikusumo berusaha menjelaskan bahwa Indonesia tidak membabat hutan untuk proyek food estate, melainkan berkomitmen untuk melakukan penanaman kembali dan revitalisasi hutan yang rusak. "Kami siap memitigasi dampak dari apa yang disebut deforestasi oleh komunitas internasional dan akan terus mengedepankan ketahanan pangan," ujarnya saat membuka Paviliun Indonesia di COP 29 di Baku, Azerbaijan, pada Senin (11/11/2024).