Ringkasan Berita:
Ekspor jadi motor utama pertumbuhan ekonomi Provinsi Lampung.
Namun ekspor Lampung kini dikhawatirkan terimbas kebijakan tarif masuk Amerika Serikat 19 persen.
Pertumbuhan ekonomi Lampung pada tahun 2025 sebesar 5,28 persen, dengan kontribusi ekspor mencapai 3,81 persen.
Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Ekspor masih menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Provinsi Lampung. Namun ekspor Lampung kini dikhawatirkan terimbas kebijakan tarif masuk Amerika Serikat 19 peren.
Jika ekspor terdampak tarif barang masuk Negeri Paman Sam sebesar 19 persen, maka akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di Lampung.
Dosen Ekonomi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Lampung, Asrian Hendi Cahya mengatakan, sektor ekspor masih menjadi strategi penting untuk menjaga stabilitas dan akselerasi pertumbuhan ekonomi Lampung ke depan.
Hal ini terlihat dengan kontribusi ekspor terhadap nilai pertumbuhan ekonomi Lampung. Diungkap Asrian, pertumbuhan ekonomi Lampung pada tahun 2025 tercatat sebesar 5,28 persen, dengan kontribusi ekspor mencapai 3,81 persen.
"Artinya, ekspor menjadi penyumbang terbesar dalam pembentukan pertumbuhan ekonomi Lampung tahun 2025," ungkap Asrian, Sabtu (21/2/2026).
Dia menuturkan, sampai tahun 2025 ekspor di Lampung menunjukkan kinerja yang tetap positif meski sedang terjadi dinamika perdagangan global.
Hal itu, menurut dia, terlihat dalam data pertumbuhan ekspor Provinsi Lampung selama tiga tahun terakhir, 2023-2025.
Asrian mengungkap secara volume, ekspor Lampung justru tumbuh dari tahun ke tahun. Tercatat dari tahun 2023 volume ekspor sebesar 5,84 persen, meningkat di tahun 2024 menjadi 55,71 persen. Kemudian meningkat lagi pada 2025 jadi 7,20 persen.
"Artinya volume ekspor tetap naik. Jadi secara kuantitas, kinerja ekspor kita masih menunjukkan tren positif," ujarnya.
Ia menilai, secara umum ekspor Lampung tetap tumbuh cukup tinggi. Kondisi ini menunjukkan kebijakan tarif resiprokal yang berkembang di tingkat global tidak memberikan dampak signifikan terhadap kinerja ekspor daerah.
"Bisa dikatakan tidak terlalu berpengaruh terhadap ekspor Lampung. Karena faktanya, pertumbuhan tetap terjadi dan relatif tinggi," jelasnya.
Namun demikian, Asrian mengingatkan bahwa persoalan struktural perdagangan Lampung masih menjadi pekerjaan rumah.
Selama periode 2023 hingga 2025, neraca perdagangan daerah tercatat selalu defisit karena nilai impor lebih besar dibandingkan ekspor.
"Hampir setiap tahun impor kita lebih besar daripada ekspor. Ini yang perlu menjadi perhatian," katanya.
Sepanjang 2025, Ekspor Lampung ke AS Tembus Rp 17 Triliun
Amerika Serikat masih menjadi magnet utama tujuan produk-produk unggulan Lampung.