Logika News - CANTIKA.COM, Jakarta - Dunia estetika terus mengalami perkembangan. Jika sebelumnya banyak orang mengejar tampilan wajah yang dramatis, kini tren justru mengarah pada hasil yang lebih natural, segar, dan tetap mempertahankan karakter wajah asli. Pergeseran ini juga terlihat pada kalangan Gen Z yang mulai menjadikan perawatan kecantikan sebagai bagian dari gaya hidup sekaligus langkah pencegahan dini terhadap tanda-tanda penuaan.
Pilihan treatment pun semakin beragam, mulai dari skin booster, filler, hingga collagen stimulator. Namun, banyaknya pilihan tersebut sering membuat masyarakat bingung menentukan prosedur yang paling sesuai dengan kebutuhan kulit masing-masing.
Founder Beauty Sister Clinic, dr. Elizabeth Lisa, mengatakan bahwa setiap orang memiliki kondisi kulit, struktur wajah, hingga proses penuaan yang berbeda. Karena itu, tidak ada satu jenis treatment yang dapat menjadi solusi untuk semua orang.
"Yang perlu dipahami, tidak ada satu treatment yang cocok untuk semua orang. Kondisi kulit, usia, struktur wajah, hingga tujuan estetika setiap individu berbeda. Karena itu, pemilihan terapi sebaiknya dilakukan berdasarkan kebutuhan masing-masing melalui konsultasi dengan dokter," ujar dr. Lisa dalam konferensi pers Unlock the Natural Combination Treatment PLLA-SCA & NASHA-OBT di Jakarta, Jumat, 3 Juli 2026.
Kolagen Berkurang Sejak Usia 20 Tahun
Menurut dr. Lisa, proses penuaan kulit sebenarnya dimulai lebih awal daripada yang banyak orang kira. Sejak memasuki usia 20 tahun, produksi kolagen alami tubuh mulai menurun sekitar satu persen setiap tahun. Saat memasuki usia 40 tahun, sekitar 20 persen kolagen telah hilang.
Penurunan kolagen inilah yang menyebabkan kulit kehilangan elastisitas sehingga tampak kendur. Sementara itu, garis halus dan keriput muncul akibat berkurangnya volume lemak di bawah permukaan kulit, terutama pada area pipi dan bawah mata.
Karena itu, ia menyarankan masyarakat mulai mempertimbangkan perawatan preventif sejak usia muda. Lebih baik melakukan pencegahan dibandingkan menunggu tanda penuaan semakin banyak, karena nantinya perawatan yang dibutuhkan juga akan lebih kompleks dan biayanya lebih besar," jelasnya.
Kombinasi Dua Teknologi untuk Hasil Lebih Optimal
Salah satu pendekatan yang kini mulai banyak digunakan adalah kombinasi collagen stimulator PLLA-SCA (Poly-L-Lactic Acid–Sterile Carboxymethylcellulose) dengan filler berbasis teknologi NASHA dan OBT.
PLLA-SCA bekerja dengan merangsang produksi kolagen alami sehingga kulit menjadi lebih kencang, kenyal, dan memberikan efek lifting secara bertahap. Teknologi ini telah digunakan secara klinis selama lebih dari dua dekade di berbagai negara dan kini mulai tersedia di Indonesia.
Sementara itu, filler NASHA dan OBT dirancang untuk kebutuhan jaringan wajah yang berbeda. NASHA memiliki tekstur lebih kokoh sehingga cocok digunakan pada area yang membutuhkan struktur, sedangkan OBT lebih fleksibel sehingga ideal diaplikasikan pada bagian wajah yang aktif bergerak.
Menurut dr. Lisa, kombinasi kedua teknologi tersebut memungkinkan dokter menyusun perawatan yang benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan setiap pasien.
"Filler memberikan hasil yang langsung terlihat untuk memperbaiki kontur wajah atau mengisi area yang kehilangan volume. Sementara collagen stimulator bekerja bertahap memperbaiki kualitas kulit dari dalam. Ketika dikombinasikan, hasilnya menjadi lebih optimal dan tetap terlihat alami," ujarnya.
Ia menambahkan, efek collagen stimulato r PLLA-SCA dapat bertahan hingga sekitar 25 bulan, sehingga menjadi pilihan bagi pasien yang menginginkan hasil jangka panjang.
Personalized Treatment Jadi Kunci
Seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap prosedur estetika, konsep personalized treatment kini semakin diutamakan. Artinya, setiap tindakan disesuaikan dengan kondisi kulit, proporsi wajah, ekspresi, hingga kebutuhan masing-masing individu.
Dr. Lisa mengungkapkan bahwa mayoritas pasien di kliniknya kini berasal dari kelompok usia 20 hingga akhir 40 tahun. Mereka datang bukan hanya untuk memperbaiki tanda penuaan, tetapi juga melakukan pencegahan agar proses aging berlangsung lebih lambat.
Ia pun mengingatkan masyarakat, khususnya Gen Z, agar tidak mudah mengikuti tren yang beredar di media sosial tanpa berkonsultasi dengan dokter.
"Setiap wajah memiliki karakter yang berbeda, termasuk bentuk wajah, simetri, kondisi kulit, hingga proses penuaannya. Karena itu, konsultasi dengan dokter menjadi langkah penting agar treatment yang dipilih benar-benar sesuai kebutuhan dan hasilnya tetap aman," tuturnya.
Menurutnya, kombinasi beberapa modalitas perawatan umumnya memberikan hasil yang lebih maksimal dibandingkan hanya mengandalkan satu jenis treatment. Dengan pendekatan yang tepat, perawatan estetika tidak hanya membantu menjaga penampilan tetap segar, tetapi juga mempertahankan karakter alami wajah tanpa terlihat berlebihan.