Revolusi Hijau Perempuan di Pesantren: Mewujudkan Ekonomi Berkelanjutan Lintas Iman
Saya berkunjung ke Pesantren Ekologi Ath-Thaariq, Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, akhir Desember 2025. Ini kali pertama saya ke sana setelah sebelumnya cuma membaca berita tentang pesantren yang ditahbiskan sebagai representatif family farming decade oleh Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) periode 2018-2028 tersebut.
Pukul 14.00 WIB, kendaraan saya parkir di tepi jalan utama karena akses menuju pesantren hanya bisa dilanjutkan dengan berjalan kaki. Kurang lebih 600 meter, saya menyusuri jalur bekas rel kereta yang dipenuhi rumput liar di kiri dan kanan. Di ujung jalan setapak itu berdiri satu-satunya kompleks bangunan tanpa papan penanda mencolok.
Berdiri di lahan sekitar delapan ribu meter persegi, Pesantren Ath-Thaariq diapit sisa hamparan sawah nan asri, di tengah kawasan urban yang terus meluas. Semacam hidden gem mengingat pesantren ini cuma berjarak dua kilometer dari kompleks perkantoran Pemerintah Kabupaten Garut.
Saat saya menjejak halaman depan, beberapa ayam kampung berlarian bebas. Sebuah gubuk kayu dengan balai panjang berdiri di depan gedung utama, sekaligus jadi ruang diskusi dan tempat tamu berkumpul.
Siang itu, ruang makan pesantren terasa hidup. Beberapa calon frater Ordo Fransiskan Misionaris (OFM) yang sedang mengikuti program co-living lintas iman tampak menyiapkan makan siang—satu orang menggoreng tahu, satu orang menyiapkan sayur sop bening. Sementara lainnya menyapu halaman dan merapikan balai depan. Aroma sambal tomat terasi yang baru diulek memenuhi ruang makan, tempat saya berbincang dengan Salwa Kanza, 25.
Salwa kini menjadi pemimpin pesantren generasi kedua setelah pendirinya, aktivis lingkungan Nissa Wargadipura pensiun. Pesantren memang tak lagi dihuni santri menetap, tapi tetap ramai karena jadi ruang tinggal belajar lintas iman yang mempertemukan komunitas Muslim hingga Katolik untuk mempelajari agroekologi, pengolahan pangan lokal, dan ekonomi komunitas berkelanjutan.
Mata saya menyapu ruangan mezzanine yang tampak lapang dengan langit-langit setinggi enam meter ini. Beberapa lukisan dari sisa limbah kopi bergantung rapi di ruang tamu. Tak ada pendingin udara, batin saya, tapi jendela memang dibiarkan terbuka.
“Enggak takut ular dari sawah masuk rumah, Teh,” tanya saya.
Salwa tersenyum. Ia bilang, “Kami percaya kalau ekosistem dan rantai makanan seimbang, hewan tetap punya makanan dan ruangnya sendiri. Mereka tidak akan masuk ke ruang manusia.”
Percakapan tentang keseimbangan ekosistem itu mengarah pada gagasan yang ia dorong sejak mengambil alih pengelolaan pesantren. Adalah perubahan ekonomi hijau paling dasar yang dimulai dari ruang sederhana: Meja makan.
Bukan tanpa alasan, Salwa mengusung ide ini. Sebagai ibu muda, ia merasa dengan manajemen yang tepat, aktivitas produksi pangan lokal, pengolahan hasil kebun, serta pengembalian limbah organik ke tanah, bisa membuka peluang pekerjaan hijau skala komunitas.
“Kalau dapur berubah, ekonomi rumah tangga ikut berubah. Dari situ sebenarnya green jobs bisa tumbuh,” ujarnya pada saya.
Gagasan revolusi hijau dari meja makan itu terus ia gaungkan dalam kelas-kelas ekologis di pesantrennya. Salwa sendiri menginfokan sudah empat tahun terakhir konsisten menularkan ilmu sekaligus menyediakan ruang di mana kawan-kawan lintas agama bisa mempelajari kerja ekologis yang menghasilkan.
Ia mencontohkan, setiap hasil panen pesantren, dari padi, kelapa, sayuran, sampai tanaman palawija, semua bisa didayagunakan. Selain membuat ia dan keluarga tak pernah khawatir kelaparan, ia juga kerap membagikan secara cuma-cuma hasil panen dari lahan pesantren untuk para tetangga. Nyatanya cara-cara ini banyak diimitasi di komunitas masing-masing, oleh mereka yang pernah menjadi “santri ekologis” di pesantrennya.
“Kami ingin menunjukkan pekerjaan hijau itu tidak harus selalu proyek besar. Dari kebun kecil pun bisa memberi dampak, asal dikerjakan bersama dan berkelanjutan,” ungkapnya.
Baca juga: Apa itu ‘Eco-Pesantren’: Saat Santri Terlibat dalam Ekonomi Hijau Nasional
Merata di Berbagai Komunitas Iman
Pengalaman di Ath-Thaariq menunjukkan praktik yang diam-diam berkembang di banyak komunitas agama di Indonesia. Di Panti Asuhan Santo Yusuf Sindanglaya, Kabupaten Cianjur, Bruder Trimuryanto FM menjelaskan, kompleks seluas sekitar 13 hektare yang ia kelola, mengembangkan pertanian organik, peternakan, serta pengolahan limbah organik yang melibatkan 230 anak asuh lintas agama, dari jenjang Sekolah Dasar hingga perguruan tinggi.
“Satu hal yang kami lakukan adalah mengelola semua bahan organik, terutama dari dapur. Sisa sayuran, kulit buah, air cucian beras, semuanya diolah lagi menjadi pupuk cair atau pakan ternak,” ungkapnya lewat wawancara Zoom, 31 Desember 2025.
Dalam komunitas agama Katolik, perempuan jadi motor penggerak yang penting. Tak cuma di Panti Asuhan Santo Yusuf, inisiatif menciptakan green jobs juga muncul di komunitas Katolik Jogja. Saya berbincang dengan Suster Theresina CB, anggota Kongregasi Suster Carolus Borromeus lewat pesan teks pada 31 Desember 2025.
Suster Theresina terbilang aktif mengajak para novis dan komunitas gereja menjalankan gerakan “ Pertobatan Ekologis ”. Ia mengajak para suster di lingkungan Rumah Sakit Carolus, untuk mengolah limbah organik yang bersih dan segar menjadi eco enzyme, serta memanfaatkan sisa makanan, air rebusan, dan dedaunan sebagai kompos. Selain itu, ia juga mendorong pemilahan limbah anorganik dan membangun jejaring kerja sama dengan bank sampah.
Sebelas dua belas, di Bekasi, Jawa Barat, Pendeta Meilani dari Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB) mendorong gerakan Eco-GPIB. Intinya adalah mengajak jemaat mengurangi plastik sekali pakai, membawa tumbler sendiri saat ibadah, serta mengembangkan pengelolaan sampah komunitas.
“Kerja berdampak paling besar ya kita-kita sendiri, komunitas agama kita sendiri, dari akar rumputnya,” katanya secara terpisah, 31 Desember 2025.
Sementara, pemuka agama Hindu KRHT Astono Chandra Dana, SE. MM. MBA melihat praktik serupa telah lama hadir dalam ajaran Tri Hita Karana yang menekankan harmoni manusia, alam, dan Tuhan. “Banyak pekerjaan yang sebenarnya sudah hijau dari dulu, hanya tidak disebut green jobs,” ujarnya.
Ia mencontohkan bagaimana perempuan-perempuan di Bali, tak cuma umat Hindu, yang berperan penting merawat tanaman dan bunga untuk ritual ibadat. Hasil perawatan tanaman ini kemudian bisa dikonversi menjadi sumber penghidupan warga setempat. “Ujung-ujungnya adalah ekonomi sirkular,” ucapnya.




