Potensi Ekonomi Perempuan di Bulan Ramadhan
CLOSE
Home / Opini
Ramadhan dan Kebangkitan Ekonomi Perempuan
Putri Emalia
Jumat, 20 Februari 2026 - 21:06 WIB
Oleh : Prof. Dr. Hj. Lilis Sulastri.,MM.,CPHRM.,CHRA. (Guru Besar Ilmu Manajemen FEBI UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah Kota Bandung & Sekretaris Departemen Penguatan SDM Lembaga Keuangan Syariah MPP ICMI)
Setiap Ramadhan tiba, lanskap ekonomi Indonesia mengalami perubahan yang sangat terasa. Menjelang waktu berbuka, sudut-sudut kota dan desa mendadak hidup. Trotoar, halaman masjid, pelataran rumah, hingga gang kecil berubah menjadi pusat transaksi yang dinamis. Di balik meja sederhana dan etalase seadanya, berdirilah para Perempuan ibu rumah tangga, janda, mahasiswa, hingga pensiunan yang menjajakan kolak, gorengan, es buah, lontong, dan aneka panganan berbuka. Fenomena perempuan turun ke ruang publik pada bulan suci bukan sekadar gejala musiman. Yang tampak di permukaan hanyalah aktivitas jual beli. Di baliknya, berlangsung proses ekonomi yang lebih dalam, yakni adaptasi, kreativitas, dan afirmasi kemandirian keluarga. Ramadhan membuka ruang bagi perempuan untuk tampil sebagai aktor ekonomi strategis, bukan pelengkap. Momentum ini perlu dibaca bukan sebagai romantika pasar takjil, tetapi sebagai potensi kebijakan dan strategi pemberdayaan ekonomi perempuan.
Ramadhan sebagai Mesin Perputaran Ekonomi Rakyat
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Baca Juga : Merawat Kondusifitas Negara Demi Martabat Pemerintah dan Rakyat
Secara ekonomi, Ramadhan menghadirkan lonjakan konsumsi yang unik. Kebutuhan berbuka dan sahur mendorong permintaan harian yang stabil selama satu bulan penuh. Tradisi berbagi, buka bersama, sedekah makanan, hingga penguatan silaturahmi menciptakan ekosistem pasar yang hidup.
Ada tiga karakter ekonomi Ramadhan yang membuatnya berbeda, Pertama, konsumsi berbasis spiritual. Masyarakat membeli bukan sekadar karena lapar, tetapi karena tradisi ibadah dan kebersamaan. Kedua, solidaritas sosial yang meningkat. Konsumen cenderung memilih membeli dari pedagang kecil sebagai bentuk dukungan ekonomi sesama. Ketiga, perputaran uang harian yang cepat. Skala kecil namun volume tinggi menciptakan likuiditas mikro yang signifikan. Dalam ruang seperti ini ekonomi perempuan menemukan peluang. Dapur rumah bertransformasi menjadi pusat produksi. Dan ruang domestik melebar ke ruang publik tanpa harus meninggalkan identitas keibuan.
Perempuan Turun ke Jalan: Strategi Bertahan atau Lompatan Kemandirian?
Banyak perempuan memulai usaha Ramadhan karena dorongan kebutuhan. Biaya pendidikan anak, tekanan harga kebutuhan pokok, cicilan, atau menurunnya pendapatan keluarga menjadi alasan utama. Namun, realitas tersebut tidak berhenti pada sekadar bertahan hidup. Bulan Ramadhan sering menjadi titik awal lahirnya kesadaran ekonomi baru. Lapak sederhana menghadirkan pengalaman manajerial yang tidak pernah diajarkan secara formal. Perempuan belajar menghitung modal, memprediksi permintaan, menentukan harga, mengelola risiko bahan baku, hingga menjaga kualitas layanan. Setiap hari menjadi ruang belajar ekonomi praktis. Dalam perspektif manajemen, pasar takjil merupakan laboratorium kewirausahaan rakyat. Modal kecil, risiko terukur, waktu terbatas, tetapi dampaknya nyata bagi ketahanan keluarga. Artinya Ramadhan bukan hanya bulan ibadah, tetapi juga bulan pembelajaran ekonomi perempuan.
Baca Juga : Meluruskan Tuduhan, Menegakkan Fakta: Klarifikasi Zulhas tentang Banjir Sumatra dan Taman Nasional Tesso Nilo
Nilai Spiritual sebagai Keunggulan Kompetitif
Ekonomi perempuan di bulan Ramadhan memiliki karakter yang tidak sepenuhnya ditemukan dalam logika pasar konvensional. Ada nilai yang menyertainya. Kejujuran dalam takaran dan kualitas dijaga karena kesadaran spiritual. Harga sering disesuaikan agar tetap terjangkau. Tidak jarang pedagang memberikan tambahan atau berbagi kepada pembeli yang membutuhkan. Nilai spiritual tersebut menjadi diferensiasi sekaligus keunggulan kompetitif. Konsumen merasakan kehangatan, bukan sekadar transaksi. Ekonomi yang tumbuh dari kesadaran ibadah melahirkan kepercayaan. Kepercayaan adalah aset tak berwujud ( intangible asset) yang sangat mahal dalam dunia bisnis. Hadirnya Ramadhan dapat memperkuat fondasi tersebut.
Setiap tahun, ribuan usaha kecil lahir selama bulan puasa. Sebagian memang berhenti setelah Idulfitri. Namun, tidak sedikit yang berlanjut dan berkembang menjadi usaha permanen. Ada beberapa pola transformasi yang sering terjadi:
Dari musiman menjadi rutin. Usaha kolak atau kue kering berkembang menjadi katering kecil, warung harian, atau bisnis online.
Terbentuknya jaringan sosial ekonomi. Tetangga, majelis taklim, dan komunitas masjid menjadi jejaring distribusi dan promosi.
Digitalisasi spontan. Pemanfaatan WhatsApp, media sosial, hingga pembayaran digital meningkat signifikan selama Ramadhan.
Baca Juga : Peran Pemerintah sebagai Solusi atas Konflik di Kabupaten Lani Jaya
Dengan kata lain, Ramadhan berfungsi sebagai inkubator kewirausahaan perempuan berbasis rumah tangga. Potensi ini seharusnya tidak dibiarkan berjalan tanpa arah. Dibutuhkan strategi agar inkubasi alami tersebut naik kelas.
Meskipun potensinya besar, ekonomi Perempuan di bulan Ramadhan menghadapi beberapa hambatan mendasar. Pertama, akses modal yang terbatas. Sebagian masih mengandalkan pinjaman informal dengan bunga tinggi, yang justru menggerus keuntungan. Kedua, minimnya pendampingan manajerial. Pengetahuan tentang pencatatan keuangan, pengemasan, legalitas produk, dan strategi pemasaran masih rendah. Ketiga, kerentanan ruang usaha. Penertiban tanpa solusi alternatif dapat memutus sumber penghasilan. Keempat, beban ganda.
Perempuan tetap memikul tanggung jawab domestik sekaligus aktivitas ekonomi. Jika tidak ditangani, energi produktif Ramadhan hanya akan berulang sebagai siklus tahunan tanpa transformasi struktural.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari DETIKIndonesia.co.id. Mari bergabung di Channel Telegram "DETIKIndonesia.co.id", caranya klik link https://t.me/detikindonesia, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Penulis: Prof. Dr. Hj. Lilis Sulastri.,MM.,CPHRM.,CHRA
Editor :
Sumber :
Halaman : 1 2 Selanjutnya
Berita Terkait
Lonjakan Harga Minyak dan Ancaman Penutupan Selat Hormuz: Ujian Baru bagi Ekonomi Indonesia
Aka Yang Menginspirasi dengan Aksi
Apakabar Industri Tekstile Indonesia ?Industri Manufaktur Penggerak utama Menopang Pertumbuhan Ekonomi Nasional
MENATA ULANG DESAIN SISTEM KENEGARAAN INDONESIA
Berdayung Antara Monarki , Poliarki dan Oligarki
Catatan Politik Bamsoet
Muhammad Burhanuddin: Media, Narasi, dan Politik Kebenaran
KEMANA PERGINYA 200T DARI MENKEU KITA?
Tag : Guru Besar Ilmu Manajemen FEBI UIN Sunan Gunung Djati Bandung Opini Prof. Dr. Hj. Lilis Sulastri Ramadhan Ramadhan dan Kebangkitan Ekonomi Perempuan
Berita Terbaru
Ekonomi & Bisnis
Gandeng Ratusan Mitra, Founder Lions Nusantara Group Lebarkan Bisnis Tren di Semarang
DKI JAKARTA
Presiden SIRI: Sidak William ke PAM Patut Diapresiasi
DKI JAKARTA
Premanisme Marak di Jakarta, Justin PSI Soroti Kinerja Gubernur
Nasional
Pramono Sanksi PPSU dan Lurah terkait Foto AI di JAKI, Kevin Wu PSI Angkat Suara
Nasional
Fakfak Siapkan Lahan 16.000 Hektare untuk Perkebunan Sawit
Nasional
Revitalisasi Transmigrasi Dorong Lahirnya Pusat Pertumbuhan Ekonomi Regional
Tag
AA LaNyalla Mahmud Mattalitti daerah Jakarta Ketua DPD RI Nasional
Jl Matraman Raya 66, Kebon Manggis, Matraman, Jakarta Timur, DKI Jakarta, Indonesia
FOLLOW US
DOWNLOAD OUR APP
MEMBER Of DETIK INDONESIA
MDI Group
DETIK Jakarta
DETIK TV SUMSEL
DETIK Papua
Urita
Times Timur
Tempo Malut
DETIK Nusantara
Tentang Kami
Info Iklan
Redaksi DETIK Indonesia
Disclaimer
Kontak Kami
Copyright © 2026 DETIK INDONESIA - All Rights Reserved




