Peran Emosi dalam Pengambilan Keputusan: Analisis dari Perspektif Psikologi
Sumber Foto: Jawa Pos
Logika Fakta

Peran Emosi dalam Pengambilan Keputusan: Analisis dari Perspektif Psikologi

JawaPos.com - Dalam proses pengambilan keputusan, banyak yang masih beranggapan bahwa logika adalah satu-satunya faktor yang menentukan. Namun, anggapan ini mungkin kurang tepat jika mempertimbangkan peran penting emosi dalam proses tersebut.

Konsep pemisahan antara jiwa dan tubuh yang dikemukakan oleh Rene Descartes, yang dikenal sebagai Cartesian Dualism, mungkin menjadi akar dari pemikiran ini. Menurut Descartes, jiwa dan tubuh merupakan dua entitas yang terpisah. Namun, dr. Jiemi Ardian, seorang psikiater, menyatakan bahwa pandangan tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kenyataan.

Dalam sebuah diskusi di kanal YouTube-nya, dr. Jiemi merujuk pada buku Descartes Error karya Antonio Damasio yang menegaskan bahwa logika dan emosi tidak bisa dipisahkan secara mutlak. Dalam konteks pengambilan keputusan, hanya mengandalkan logika ternyata tidaklah cukup.

Kasus Elliot: Ketidakmampuan Mengambil Keputusan

Dr. Jiemi menjelaskan melalui contoh kasus seorang pria bernama Elliot yang mengalami tumor otak yang mempengaruhi bagian ventromedial prefrontal cortex. Meskipun logikanya tidak terganggu, Elliot mengalami kesulitan dalam mengambil keputusan, bahkan untuk memilih hal-hal sederhana.

Saat menganalisis situasi, Elliot mampu memberikan analisis yang baik dan berkomunikasi dengan lancar. Namun, ketika dihadapkan pada pilihan, ia tidak dapat menentukan prioritas. Hal ini disebabkan oleh ketidakmampuan dia untuk merasakan emosi sekunder akibat kondisi medisnya. Emosi sekunder adalah reaksi emosional yang muncul sebagai respons terhadap emosi primer, seperti rasa malu yang muncul akibat perasaan cemas atau sedih.

Pentingnya Emosi dalam Pengambilan Keputusan

Pada dasarnya, dr. Jiemi menegaskan bahwa dalam pengambilan keputusan, emosi sekunder memainkan peran yang krusial. Mengandalkan logika saja dapat menyebabkan proses pengambilan keputusan menjadi lebih lambat dan tidak efisien.

Contohnya, ketika seseorang harus memilih antara smartphone Android dan iPhone, keputusan tersebut sering kali dipengaruhi oleh emosi. Emosi yang membuat seseorang merasa nyaman atau tidak nyaman akan berperan dalam menentukan pilihan, sedangkan logika dapat digunakan untuk menambah pertimbangan setelah emosi terlibat.

Dengan penjelasan ini, jelas bahwa meskipun logika penting, emosi adalah komponen yang sangat berpengaruh dalam proses pengambilan keputusan.