TENGGARONG - Dandhy Laksono, seorang sutradara yang dikenal melalui film-film dokumenternya seperti "Sexy Killer" dan "Dirty Vote", kembali menghadirkan karya terbarunya berjudul "Pesta Babi". Film dokumenter ini, yang memiliki durasi 90 menit, disutradarai oleh Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale, serta dirilis dalam format nonton bareng (nobar) di berbagai lokasi.
"Pesta Babi" mengisahkan perjuangan masyarakat adat di selatan Papua dalam mempertahankan hak atas tanah leluhur mereka dari proyek-proyek besar yang mengatasnamakan "ketahanan pangan" dan "transisi energi", serta mengeksplorasi sejarah panjang eksploitasi di Papua. Sebagai sebuah media independen, film ini menyajikan visualisasi yang berbasis pada data dan fakta.
Di Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, komunitas sineas lokal yang dikenal dengan nama Komunitas Pelem Indie (KOPI) Tenggarong menyelenggarakan nobar film ini. Kegiatan tersebut berlangsung di kedai kopi sederhana bernama Rogos pada malam Sabtu, 2 Mei 2026.
Nobar ini dihadiri oleh berbagai kalangan, termasuk sineas, pemuda, dan jurnalis. Selain sebagai acara menonton film, nobar ini juga berfungsi sebagai wadah diskusi dan refleksi mengenai isu-isu krisis ekologis dan kemanusiaan yang terjadi di Papua, terutama terkait dengan Proyek Strategis Nasional (PSN) dan ekspansi agribisnis. Faruq Wijaya, pendiri KOPI Tenggarong, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan inisiatif bersama pemuda dan sineas dalam upaya membangun kembali ekosistem film di Tenggarong.
“Kami ingin menciptakan lebih banyak ruang diskusi agar ekosistem kreatif bisa berkembang,” ungkap Faruq. Ia menambahkan bahwa dengan munculnya film "Pesta Babi" di dunia maya, KOPI Tenggarong memanfaatkan momentum tersebut untuk membuka ruang dialog dan diskusi di daerah.
Faruq menekankan bahwa film ini tidak hanya sekadar tontonan, tetapi juga memunculkan gagasan dan isu yang relevan untuk direfleksikan. Meskipun berfokus pada konteks Papua, pesan yang disampaikan film ini juga sangat relevan bagi masyarakat di Kutai Kartanegara dan Kalimantan Timur.
Melalui nobar ini, Faruq berharap dapat menghidupkan kembali nalar kreatif dan kritis di kalangan sineas dan pemuda. Ia mendorong untuk lebih peka terhadap isu-isu lokal, mengingat peristiwa yang terjadi di Papua dapat memberikan pelajaran berharga untuk daerah mereka sendiri.
“Sebagai masyarakat daerah, penting untuk tidak menerima kebijakan dari pusat begitu saja, tetapi perlu ada ruang untuk berpikir dan berdialog agar kebijakan tersebut dapat disesuaikan dengan kondisi lokal,” tambahnya. Faruq menutup dengan menyatakan bahwa film ini sangat layak ditonton karena dapat membuka wawasan dan cara pandang, serta menyentuh isu-isu yang juga relevan untuk daerah lain seperti Kalimantan.