Peluncuran Fatmawati Trophy: Mengangkat Peran Perempuan dalam Sejarah
Sumber Foto: Liputan6.com
Sosial

Peluncuran Fatmawati Trophy: Mengangkat Peran Perempuan dalam Sejarah

Ketua Panitia Nasional Fatmawati Trophy, I Gusti Ayu Bintang Darmawati, menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari gerakan kebudayaan yang menempatkan perempuan sebagai subjek utama sejarah.

Meski demikian, menurut dia, Fatmawati Trophy bukan sekadar ajang penghargaan atau kompetisi biasa. Menurut dia, ajang tersebut merupakan inisiatif serta upaya membangun kesadaran sejarah sekaligus memperkuat fondasi ideologis partai dalam memaknai peran perempuan.

“Pada hari ini kita tidak hanya meluncurkan sebuah ajang penghargaan. Kita sedang membangun monumen kesadaran sejarah, ruang refleksi ideologis, dan gerakan kebudayaan nasional yang secara sadar menempatkan perempuan di pusat narasi bangsa,” ujar Bintang di Rumah Fatmawati Soekarno, Jakarta, Sabtu (7/2/2026).

Ia menjelaskan, Fatmawati Trophy lahir dari kesadaran atas peran Ibu Bangsa Fatmawati Soekarno sebagai Ibu Negara pertama Republik Indonesia yang memiliki makna historis dan ideologis dalam perjuangan kemerdekaan.

"Dinamika perjuangan itu membentuk karakter Fatmawati sebagai pribadi tangguh, mandiri, dan memiliki kesadaran kebangsaan sejak usia muda," ujar Bintang.

Menurut Bintang, Fatmawati bukan sekadar pendamping Presiden Soekarno, tetapi figur yang turut mengukir sejarah republik. Ia menjahit Sang Saka Merah Putih dengan tangannya sendiri di tengah kondisi revolusi dan keterbatasan.

Dari pernikahan itulah lahir lima putra-putri bangsa: Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri, Rachmawati Soekarnoputri, Sukmawati Soekarnoputri, dan Guruh Soekarnoputra. Sejarah mencatat: putri sulungnya, Megawati Soekarnoputri, menjadi perempuan pertama dalam sejarah Indonesia yang menjabat Wakil Presiden dan Presiden Republik Indonesia.

“Beliau melahirkan bukan hanya generasi secara biologis, tetapi juga kepemimpinan perempuan dalam sejarah Indonesia,” kata Bintang.

Sebagai instrumen politik kebudayaan, Fatmawati Trophy dikemas dalam bentuk kompetisi desain fesyen nasional. PDI Perjuangan memandang fesyen bukan sekadar estetika, melainkan medium simbolik yang merepresentasikan nilai, identitas, dan sikap hidup.

Trofi Fatmawati sendiri merupakan hasil kontemplasi Ketua DPP PDI Perjuangan M. Prananda Prabowo yang kemudian diwujudkan secara artistik oleh pemahat nasional Dolorosa Sinaga.

Figur yang dihadirkan menggambarkan sosok perempuan berjubah yang berdiri tegak dalam keheningan—melambangkan keteguhan moral, kepemimpinan tanpa agresi, dan kekuatan dalam sunyi.