Najwa Shihab: Literasi dan Kemandirian sebagai Kekuatan Perempuan Inspirasi Roehana Koeddoes
Sumber Foto: IDN Times
Sosial

Najwa Shihab: Literasi dan Kemandirian sebagai Kekuatan Perempuan Inspirasi Roehana Koeddoes

1. Perempuan tidak menunggu, tapi menciptakan ruang

“Setiap zaman selalu punya cara untuk membungkam perempuan. Tapi di setiap zaman juga selalu ada perempuan yang menemukan cara untuk bersuara,” kata Najwa.

Ia mencontohkan Roehana Koeddoes yang sudah menulis dan bergerak sejak ratusan tahun lalu, bahkan ketika ruang bagi perempuan sangat terbatas.

“Ia menulis dan yang menarik adalah ia membuka ruangannya sendiri loh. Ia tidak menunggu ruang publik itu datang,” ujar Najwa.

Menurutnya, Roehana secara sadar memilih untuk hadir dan menuntut ruang bagi dirinya dan perempuan lain. “Ia menuntut. Ia hadir di sana,” tambahnya.

2. Literasi, kemandirian, dan tulisan sebagai kekuatan

Najwa menilai, Roehana Koeddoes memahami konsep yang sangat modern untuk zamannya, yakni pentingnya literasi, kemandirian ekonomi, dan kekuatan tulisan.

“Ia memahami sesuatu yang terasa sangat modern. Literasi membuat perempuan berpikir. Kemandirian ekonomi membuat perempuan kuat. Tulisan membuat suara itu sampai,” ucap Najwa.

Ia menegaskan, gagasan-gagasan tersebut masih menjadi bagian dari perjuangan perempuan hingga kini. “Jadi Roehana Koeddoes memahami sesuatu yang sampai sekarang masih kita perjuangkan,” katanya.

Najwa juga menekankan pentingnya kemandirian. “Perempuan akan kuat kalau kita tidak tergantung. Kita kuat kalau kita tidak tergantung,” ujarnya.

3. Keistimewaan Roehana Koeddoes menurut Najwa Shihab

Menurut Najwa, keistimewaan Roehana Koeddoes terletak pada langkah-langkah konkret yang ia lakukan untuk memberdayakan perempuan.

“Karena lagi-lagi yang dilakukan Roehana Koeddoes menjadi istimewa. Karena ia membuat sekolah. Ia membuat perempuan bisa berkarya, dan ia membuat suara sampai lewat tulisan,” katanya.

Najwa mengakui, masih ada rasa bersalah karena sosok Roehana belum cukup dirayakan. “Kerap kali kita tidak cukup merayakan keperempuanan kita, termasuk tidak cukup merayakan kepahlawanan nasional,” ujarnya.

Ia juga menceritakan pengalamannya di program Mata Najwa yang kerap mengangkat tokoh-tokoh teladan dari sejarah. “Roehana Koeddoes sempat diriset tetapi belum sempat kita angkat,” katanya.

Najwa berharap akan ada momentum yang tepat ke depan. “Supaya lebih banyak lagi yang tahu tentang kisah-kisah perempuan yang menurut saya relevansinya bukan hanya pada jurnalis perempuan, tetapi pada semua dari kita,” tutupnya.