Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadan 1447 H Berdasarkan Fakta Astronomi dan Konsistensi Global
Sumber Foto: Jawa Pos
Logika Fakta

Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadan 1447 H Berdasarkan Fakta Astronomi dan Konsistensi Global

Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada tanggal 18 Februari 2026. Penetapan ini berlandaskan pada fakta astronomi dan kesesuaian dengan Kalender Ummul Qura di Arab Saudi.

Dalam penjelasannya, Muhammadiyah mengungkapkan bahwa penetapan tanggal tersebut tidak semata bergantung pada pengamatan di Alaska. Kalender Ummul Qura diperkirakan juga akan menetapkan 1 Ramadan pada tanggal yang sama, karena kriteria yang digunakan lebih longgar. Di Makkah, pada 17 Februari petang, bulan sudah terlihat di atas ufuk, yang menunjukkan potensi masuknya bulan baru.

Penggunaan Alaska dalam penetapan tanggal adalah wujud konsistensi Muhammadiyah terhadap kriteria hasil Kongres Internasional Penyatuan Kalender yang dilaksanakan pada tahun 2016. Kriteria ini mengharuskan visibilitas ilmiah dengan ketinggian minimal 5 derajat dan elongasi 8 derajat, yang telah disepakati melalui Musyawarah Nasional Tarjih 1447 H/2024 M di Pekajangan, Pekalongan.

Rofiq, perwakilan Muhammadiyah, menjelaskan bahwa penerapan Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT) bukanlah keputusan yang diambil secara mendadak. Proses penyatuan kalender ini telah dimulai sejak tahun 2007 ketika Din Syamsuddin, Ketua Umum PP Muhammadiyah saat itu, menjadi inisiator. Pada tahun tersebut, Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah mengadakan simposium internasional di Jakarta yang membahas upaya penyatuan kalender Islam.

Setelah perjalanan panjang selama hampir dua dekade, sistem KHGT resmi diberlakukan pada tahun 2025, menjadikan Ramadan 1447 H sebagai momen pertama penerapan sistem kalender global ini. Rofiq menegaskan bahwa keputusan ini merupakan hasil dari ijtihad yang telah dilakukan sejak lama, dan diharapkan dapat memperkuat kesatuan umat Islam secara global.

Peralihan menuju sistem kalender global juga mengharuskan umat Islam untuk mengubah cara pandang dari pendekatan lokal menjadi kesadaran sebagai bagian dari komunitas global. Rofiq menekankan bahwa keputusan berpuasa pada 18 Februari bukanlah langkah yang mendahului alam, melainkan ungkapan ketaatan pada sistem hisab yang menjanjikan kepastian ilmiah dan komitmen persatuan umat di seluruh dunia.

Dengan penerapan Kalender Hijriyah Global Tunggal, Muhammadiyah berharap dapat menghadirkan sistem penanggalan Islam yang bersatu dan mempersatukan umat Islam setelah lebih dari 14 abad penantian. Rofiq menutup penjelasannya dengan menyatakan bahwa ini adalah upaya untuk melunasi 'hutang peradaban' umat Islam terhadap keberadaan satu sistem kalender yang menyatukan.