Logika News - Kehadiran kecerdasan buatan (AI) telah mengubah dunia akademis dengan menawarkan efisiensi dalam menyusun draft, meriset data, dan memetakan ide. Namun, hal ini juga menimbulkan risiko ketergantungan yang dapat mengikis nalar kritis mahasiswa, terutama di kalangan mereka yang belajar di bidang kependidikan dan bahasa.
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bone, Aidil Akmal, menyatakan bahwa ketergantungan pada AI dapat menghilangkan proses kognitif penting bagi mahasiswa. Kemampuan menganalisis teks dan memproduksi gagasan orisinal dianggap sebagai keharusan, dan jika mahasiswa sepenuhnya mengandalkan algoritma untuk menyelesaikan tugas akademik, mereka berisiko kehilangan keterampilan berpikir kritis yang esensial.
Institusi pendidikan diharuskan untuk melindungi mahasiswa dari dampak negatif ini dengan melakukan perubahan konkret dalam metode penugasan. Dosen disarankan untuk tidak hanya meminta makalah teoritis, tetapi juga menerapkan ujian lisan atau analisis studi kasus yang lebih kompleks. Selain itu, penerapan etika akademik yang ketat perlu dilakukan melalui regulasi tentang penggunaan AI, agar mahasiswa memahami bahwa menyalin hasil dari AI dapat dianggap sebagai plagiarisme.
Akhirnya, tantangan terbesar terletak pada disiplin diri mahasiswa untuk melatih kemampuan berpikir skeptis. Data yang dihasilkan oleh AI perlu diverifikasi dengan buku teks dan jurnal ilmiah. Teknologi AI seharusnya tidak ditakuti, melainkan digunakan sebagai alat bantu dalam proses intelektual, mengingat ia tidak memiliki empati, intuisi, dan kedalaman rasa yang dimiliki manusia.