Menggali Makna Pendidikan di Era Digital: Refleksi Forum 'Membaca? See the Unseen'
Nalar Data

Menggali Makna Pendidikan di Era Digital: Refleksi Forum 'Membaca? See the Unseen'

Jakarta - Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI), muncul pertanyaan mendalam mengenai efektivitas sistem pendidikan saat ini. Apakah pendidikan di sekolah-sekolah kita benar-benar berhasil menyiapkan individu untuk berpikir kritis dan memahami diri mereka sendiri?

Pertanyaan ini menjadi fokus utama dalam forum Ngkaji Pendidikan bertajuk "Membaca? See the Unseen" yang diselenggarakan oleh Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) pada 9 Mei 2026 di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Seni dan Budaya Yogyakarta. Acara ini berhasil mengumpulkan sekitar 500 guru dan penggiat pendidikan dari berbagai daerah di Indonesia.

Dipimpin oleh Muhammad Nur Rizal, pendiri GSM, forum ini tidak membahas perubahan kurikulum atau birokrasi pendidikan, melainkan menggali isu yang lebih mendasar: bagaimana membangun kesadaran dan nalar kritis di dalam kelas.

Banyak Sarjana, Namun Kualitas Berpikir Memble

Rizal memulai diskusi dengan mengungkapkan kenyataan pahit yang dihadapi para pendidik: meski jumlah sekolah dan lulusan meningkat drastis, kualitas berpikir siswa tidak mengalami kemajuan yang sebanding. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah sekolah di Indonesia melonjak dari 100 ribu pada tahun 1970-an menjadi 300 ribu pada tahun 2020. Selain itu, jumlah kampus meningkat menjadi lebih dari 4.000, dengan lulusan sarjana mencapai 1,3 juta. Namun, ledakan angka ini hanya menghasilkan "cangkang kosong" tanpa kualitas nalar yang memadai.

Data Program for International Student Assessment (PISA) 2022 menunjukkan bahwa skor pelajar Indonesia masih jauh di bawah rata-rata global dalam hal literasi, matematika, dan sains. Bahkan, data dari Programme for the International Assessment of Adult Competencies (PIAAC) OECD mengungkapkan bahwa kemampuan literasi banyak lulusan sarjana di Jakarta setara dengan lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Jepang atau Skandinavia.

Pendidikan yang Hanya Rutinitas

Rizal menyebut fenomena ini sebagai "Schooling Without Learning". Anak-anak pergi ke sekolah, mengikuti ujian, dan lulus, tetapi proses belajar yang sesungguhnya tidak terjadi. Ia mengibaratkan sistem pendidikan yang tidak disertai kesadaran sebagai sesuatu yang akan hancur dan berantakan.

Menurut Rizal, pendidikan saat ini terlalu mengandalkan respons cepat dan mekanis, sehingga generasi muda terbiasa menjawab pertanyaan dengan hafalan tanpa pemahaman mendalam. "Masa depan pendidikan seharusnya adalah melatih kesadaran," tegasnya.

Sebagai solusi, Rizal memperkenalkan konsep "Saklar Kognitif" yang mencakup teknik metakognisi. Teknik ini melibatkan proses mengamati pikiran yang ada, menyusun ulang tindakan dengan kesadaran, dan tidak sekadar memberikan respons otomatis.

Refleksi bagi Para Pendidik

Materi yang disampaikan Rizal berhasil menggugah kesadaran para tenaga pendidik yang hadir. Rivai, seorang guru muda dari Yogyakarta, menyebut Ngkaji Pendidikan sebagai kompas pendidikan bagi guru-guru di Indonesia. Sementara itu, Jarudin, guru dari Brebes, mengungkapkan bahwa satu pertanyaan yang terus terngiang dalam pikirannya adalah: "Pantaskah?" Pertanyaan ini menjadi alarm refleksi tentang cara mengajar yang selama ini diterapkan.

Aji, seorang profesional yang juga hadir, menilai forum ini sebagai oase langka yang tidak hanya memberikan teori, tetapi juga transfer energi dan harapan untuk membangkitkan imajinasi konstruktif di dunia pendidikan.

Di akhir sesi, Rizal menyampaikan pesan penting bahwa ilmu pengetahuan harus diibaratkan seperti energi alam yang terus mengalir. "Pengetahuan dan kesadaran tidak boleh disimpan, tetapi harus diteruskan kepada orang lain agar tetap hidup dan berkembang," ujarnya.

Akhirnya, Rizal menegaskan bahwa mendidik bukan hanya soal mencetak sarjana dengan nilai tinggi, tetapi lebih kepada menciptakan manusia yang utuh dan bernilai. "Apa warisan yang ingin kita tinggalkan bagi generasi mendatang, bangsa, dan planet ini?" tutupnya.

You can share this post!