Matematika: Keterampilan Hidup Tanpa Batas Gender
Logika Utama

Matematika: Keterampilan Hidup Tanpa Batas Gender

Logika News - RRI.CO.ID, Takengon: Matematika ternyata bukan hanya soal menghitung atau menghafal rumus. Lebih dari itu, matematika mengajarkan cara berpikir logis, mengambil keputusan, mengelola kehidupan, hingga memahami bahwa setiap orang memiliki potensi yang sama tanpa memandang jenis kelamin.

Pesan tersebut disampaikan Guru Matematika MTsN 4 Aceh Tengah, Zuhra Ruhmi, M.Pd., saat menjadi narasumber dalam Program Pengarusutamaan Gender Pro 1 RRI Takengon bertema "Logika Tanpa Batas: Mengapa Angka Tidak Mengenal Gender?", Senin 6 Juli 2026.

Menurut Zuhra, hampir seluruh aktivitas manusia sebenarnya tidak pernah lepas dari matematika. Mulai dari mengatur uang belanja, menyusun jadwal, menentukan waktu salat, menggunakan teknologi digital, hingga kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), semuanya bekerja dengan dasar logika matematika.

"Matematika bukan hanya pelajaran di sekolah. Dalam kehidupan sehari-hari kita selalu menggunakannya, baik saat mengelola keuangan keluarga, mengambil keputusan, maupun memanfaatkan teknologi," ujarnya.

Ia menilai masih banyak masyarakat yang memandang matematika sebagai pelajaran yang sulit dan identik dengan laki-laki. Padahal, berdasarkan pengalamannya mengajar, keberhasilan seseorang dalam matematika lebih dipengaruhi oleh ketekunan, motivasi, dan dukungan lingkungan dibandingkan jenis kelamin.

Zuhra menjelaskan bahwa laki-laki maupun perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang selama memperoleh pondasi belajar yang baik. Menurutnya, kemampuan berhitung dan berpikir logis dapat dilatih sejak dini melalui proses belajar yang berkesinambungan.

"Belajar matematika itu seperti menaiki tangga. Kalau dasar-dasarnya kuat, anak akan lebih mudah memahami materi berikutnya. Jadi bukan soal laki-laki atau perempuan, tetapi bagaimana proses belajarnya," jelasnya.

Selain mengasah kemampuan berhitung, matematika juga mengajarkan nilai-nilai kehidupan seperti ketelitian, kesabaran, kejujuran, berpikir sistematis, dan kemampuan memecahkan persoalan.

Zuhra bahkan mengaitkan konsep matematika dengan nilai spiritual. Ia mengutip pemikiran ilmuwan Muslim Al-Khawarizmi yang menggambarkan pentingnya menempatkan Tuhan sebagai tujuan hidup. Menurutnya, logika matematika dapat menjadi media untuk memahami makna kehidupan secara lebih luas.

"Matematika mengajarkan bahwa setiap persoalan memiliki proses penyelesaian. Dalam kehidupan pun demikian, kita belajar berpikir tenang, mencari solusi, dan tidak mudah menyerah," katanya.

Dalam dunia pendidikan, ia mengingatkan bahwa guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi, tetapi juga menemukan cara belajar yang sesuai dengan karakter setiap anak. Sebab, setiap siswa memiliki gaya belajar yang berbeda, baik visual, auditori, maupun kinestetik.

Karena itu, pembelajaran perlu dibuat lebih menyenangkan melalui permainan edukatif, pemberian apresiasi, serta pendekatan yang membangun rasa percaya diri peserta didik.

Zuhra juga mengajak para orang tua untuk tidak membatasi cita-cita anak berdasarkan stereotip gender. Menurutnya, tugas orang tua adalah mengenali potensi anak dan mendukung minat yang dimilikinya.

"Jangan memaksakan anak menjadi sesuatu yang bukan passion-nya. Semua anak memiliki kelebihan masing-masing. Yang perlu kita lakukan adalah mendampingi dan memberikan kesempatan agar potensi itu berkembang," pesannya.

You can share this post!