Menggagas Budaya Bertanya di Ruang Kelas untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran
Ruang kelas seringkali menyimpan paradoks yang menarik perhatian, terutama ketika kesempatan untuk bertanya terbuka lebar namun respon yang diterima justru keheningan. Diamnya siswa dalam situasi ini bukanlah indikasi pemahaman, melainkan sering kali mencerminkan rasa takut—takut bertanya, takut salah, atau takut diejek. Fenomena ini menunjukkan bahwa ruang belajar belum sepenuhnya menciptakan suasana yang aman untuk berpikir secara terbuka.
Penelitian yang dilakukan oleh Hafifah dan rekan-rekan (2025) menunjukkan bahwa rendahnya rasa percaya diri menjadi faktor utama mengapa siswa enggan bertanya. Dalam studi lain oleh Penerapan dan Fifo (2023), ditemukan bahwa hanya 4% dari 40 siswa yang aktif bertanya, sementara 96% memilih untuk diam. Hal ini menandakan adanya krisis kemampuan berpikir kritis di ruang kelas, meskipun suasana tampak ramai dengan berbagai aktivitas.
Pentingnya Keterampilan Bertanya
Bertanya merupakan inti dari proses pendidikan, lebih dari sekadar keingintahuan, tetapi juga sebagai cara untuk menyampaikan pendapat dan membangun dialog. James Thurber pernah menyatakan, "It is better to ask some questions than to know all the answers," yang menekankan bahwa keberanian untuk bertanya memiliki nilai lebih dari sekadar kepuasan atas pengetahuan yang dimiliki.
Royani dan Muslim (2014) menegaskan bahwa keterampilan bertanya adalah elemen penting dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Sayangnya, data menunjukkan bahwa banyak siswa enggan bertanya. Dalam penelitian Suryanti et al. (2019), hanya 42,86% mahasiswa yang aktif bertanya dalam tiga pertemuan, sementara sisanya memilih untuk diam. Hal ini mungkin disebabkan oleh berbagai alasan, termasuk ketidakpahaman atau keinginan untuk menjaga citra di depan teman-teman.
Membangun Ruang Kelas yang Dialogis
Menciptakan suasana di mana siswa tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga aktif secara intelektual, bisa dicapai melalui pendidikan dialogis. Konsep ini, yang diperkenalkan oleh Paulo Freire, mengubah peran guru dari pusat pengetahuan menjadi fasilitator dialog. Dalam konteks ini, guru dan siswa saling belajar dan bertanya, menciptakan lingkungan yang mendorong keterbukaan.
Pendidikan dialogis bertujuan untuk menciptakan ruang yang aman bagi siswa untuk bertanya dan menyampaikan pendapat tanpa merasa tertekan. Dalam suasana yang mendukung ini, tidak ada pertanyaan yang dianggap bodoh, dan siswa merasa bebas untuk mengeksplorasi pemikiran mereka. Proses ini dapat menumbuhkan kesadaran kritis serta menghapuskan hierarki dalam berpikir, sehingga menciptakan ruang kelas yang lebih dinamis.
Menuju Budaya Bertanya yang Kuat
Membangun budaya bertanya bukanlah hal yang bisa dilakukan secara instan. Diperlukan keteladanan dari guru, dukungan sistemik, serta pengondisian suasana yang kondusif. Guru perlu menciptakan apresiasi terhadap keberanian bertanya dan tidak hanya menilai jawaban yang benar. Metode pengajaran yang mengedepankan partisipasi dan dialog juga sangat penting.
Diam dalam ruang kelas bukanlah tanda pemahaman, melainkan bisa jadi simbol ketakutan, kekakuan sistem, atau kebosanan. Keterampilan bertanya seharusnya menjadi bagian integral dari kurikulum, mencerminkan keberanian intelektual dan kesadaran berpikir. Tanpa pertanyaan, ruang kelas hanya akan menjadi tempat transfer pengetahuan yang kering dan tidak memancing pemikiran.
Pendidikan dialogis menawarkan solusi untuk menghidupkan kembali semangat bertanya di ruang kelas. Ketika siswa merasa dihargai dan memiliki ruang untuk berpikir, bertanya akan menjadi kebutuhan, bukan beban. Dengan demikian, ruang kelas dapat bertransformasi dari kebisingan yang kosong menjadi dialog yang penuh makna, di mana setiap pertanyaan kecil dapat memicu perubahan besar.




