Memahami Pandemi lewat Rantai “Fakta–Makna–Nyata”
Sumber Foto: CakNun.com
Logika Fakta

Memahami Pandemi lewat Rantai “Fakta–Makna–Nyata”

Wabah Corona memukul berbagai sendi kehidupan manusia di seluruh dunia. Korban jiwa terus bertambah dari hari ke hari. Di tengah situasi itu, harapan agar pandemi segera mereda dan berakhir terus disuarakan banyak orang.

Dalam konteks menyikapi pandemi, sebuah pesan dari “Simbah” di lingkungan Maiyah ditekankan: Maiyah memilih tidak berkomentar, tidak mengkritik, tidak memberi saran, tidak memuji, ataupun melakukan penilaian terhadap apa pun yang dilakukan lembaga otoritas negara terkait Coronavirus. Sikap yang diambil adalah menggali ilmu dan pengetahuan untuk jamaah sendiri.

Pesan tersebut mendorong sikap mawas diri: menengok ke dalam, menahan diri untuk tidak “koar-koar”, dan berupaya mencari hikmah di balik musibah. Salah satu cara membaca peristiwa itu, sebagaimana diingatkan penulis, adalah melalui terminologi yang pernah disampaikan Mas Sabrang: “fakta–makna–nyata”.

Contoh sederhana: ban bocor di perjalanan

Untuk menjelaskan rantai “fakta–makna–nyata”, penulis memberi contoh kejadian sehari-hari. Di tengah perjalanan, ban motor tiba-tiba bocor. Respons awal bisa beragam: ada yang mengomel dan marah, ada pula yang tetap tenang dan memilih fokus mencari solusi dengan menepi lalu mencari tukang tambal ban.

Dalam contoh itu, setelah sampai di bengkel, muncul kabar bahwa di jalur yang hendak dilewati ada pohon besar tumbang di tengah jalan. Kejadian ban bocor yang semula dianggap menghalangi rencana justru dapat dibaca sebagai peristiwa yang “menyelamatkan” dari potensi bahaya.

Membedakan “fakta”, “makna”, dan “nyata”

Dari kronologi tersebut, penulis memosisikan tiga istilah kunci:

  • Fakta: ban motor bocor.
  • Makna: tafsir manusia atas fakta itu—bisa dianggap musibah, karma, hukuman, ujian, atau bahkan hidayah, bergantung pada pilihan sikap dan cara pandang.
  • Nyata: kenyataan sejati dari maksud peristiwa itu, yang pada akhirnya “Wallahu’alam”—hanya Tuhan yang mengetahui sepenuhnya.

Penulis menekankan bahwa “kenyataan” menurut versi manusia bersifat relatif, dinamis, dan penuh dialektika. Di sisi lain, disebutkan pula rumus keyakinan: “Aku seperti yang dipersangkakan oleh hamba-Ku.” Artinya, prasangka baik terhadap takdir diharapkan berbuah kebaikan, dan sebaliknya.

Perbedaan cara pandang Barat dan Timur

Menurut Mas Sabrang, terminologi “fakta–makna–nyata” juga dapat menjadi salah satu pembeda cara memahami suatu kasus antara peradaban Barat dan Timur. Penulis merangkum perbedaannya sebagai berikut:

  • Manusia Barat cenderung “mencari keluar” dengan mengejar fakta: meneliti, mengidentifikasi, dan mengolah informasi agar dapat dipertanggungjawabkan secara nalar dan sains. Sesuatu yang tidak dapat dijelaskan logika kerap dianggap fiksi atau mitos.
  • Manusia Timur cenderung “mencari ke dalam” untuk menggali makna: fakta dipandang sebagai unsur atau instrumen, sementara yang lebih penting adalah pemaknaan dengan presisi akal dan nurani, serta upaya menemukan sisi baik dari setiap peristiwa.

Menerapkan pada pandemi Corona

Kerangka “fakta–makna–nyata” kemudian diterapkan pada pandemi. Faktanya, Corona menjadi pandemi global dan menelan korban jiwa. Jika memakai “kacamata Barat”, fokus utama adalah menelusuri fakta: asal-usul, gejala, cara penularan, pencegahan, hingga pencarian antivirus.

Namun, penulis menilai ada ironi ketika pencarian fakta semata tidak melibatkan “Maha Subjek” yang mengendalikan makhluk bernama virus. Karena itu, sebagai orang Timur—disebut secara khusus Jamaah Maiyah—penulis mengingatkan agar tidak berhenti pada lapisan fakta, melainkan melanjutkan pada proses pemaknaan dengan kejernihan akal dan kemurnian hati.

Dalam pemaknaan itu, wabah dapat dipandang sebagai azab, hukuman, balasan, atau sekadar peringatan (indzar). Setiap orang dinilai memiliki kedaulatan untuk memaknai sesuai kapasitas masing-masing, dengan tujuan menemukan sari hikmah yang mendekatkan hubungan kepada Tuhan.

Ajakan mengambil pelajaran dan memperkuat sisi rohani

Penulis menutup dengan penegasan bahwa hanya Allah yang Maha Mengetahui perkara gaib dan nyata, serta maksud dari peristiwa yang menimpa manusia. Kutipan ayat Al-Qur’an dari Surah Al-Hasyr disertakan untuk menekankan pesan agar peristiwa dijadikan pelajaran.

Di tengah pandemi, penulis mengajak untuk terus memohon petunjuk kepada Allah Swt. Disebutkan pula anjuran melafalkan doa dan menyambungnya dengan panduan wiridan dari Mbah Nun. Momentum bulan Rajab dan Sya’ban dipandang sebagai kesempatan mengambil jarak rohani dari dunia maya, membangun “imun” sekaligus membangunkan iman dari kealpaan.