Megawati Soroti Tuduhan Kolaborasi Bung Karno dengan PKI, Minta Lemhannas Teliti Fakta Sejarah 1965
Sumber Foto: JPNN.com
Logika Fakta

Megawati Soroti Tuduhan Kolaborasi Bung Karno dengan PKI, Minta Lemhannas Teliti Fakta Sejarah 1965

Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, menegaskan pentingnya mengkaji sejarah secara mendalam terkait tuduhan kolaborasi ayahnya, Bung Karno, dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Dalam pandangannya, tuduhan tersebut tidak berdasar dan bertentangan dengan integritas Bung Karno sebagai pahlawan nasional.

Merujuk pada Pasal 25 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan, Megawati menjelaskan bahwa untuk memperoleh gelar pahlawan, seseorang harus memiliki integritas moral, berkelakuan baik, dan setia kepada bangsa, serta tidak pernah mengkhianati negara. Ia menegaskan bahwa Bung Karno telah memenuhi syarat tersebut.

Dalam sebuah pernyataan, Megawati berbagi pengalamannya saat mengajukan pertanyaan kepada Bung Karno mengenai isu kolaborasi tersebut. Ia mengaku pernah dimarahi oleh ayahnya, yang merasa bahwa anaknya belum memahami kompleksitas sejarah republik. "Saya dimarahi, lho, saya nangis 3 hari 3 malam nggak dipanggil nama. Dia bilang apa, hei, anak muda, siapa tahu kamu soal republik ini. Hatiku rasanya hancur," ucap Megawati mengenang momen tersebut.

Megawati menambahkan bahwa Bung Karno memilih untuk diam ketika dituduh berkolaborasi dengan PKI, karena ia menyadari bahwa tuduhan tersebut merupakan bagian dari permainan politik. "Kamu tahu enggak Mega, ini bapak diam begini bukan bapak enggak punya kuasa tetapi bapak tahu ini sebuah permainan. Nanti kalau kamu sudah makin besar kamu cari tahu sendiri yang disebut permainan itu apa," ujarnya mengingat pesan sang ayah.

Dalam kesempatan tersebut, Megawati meminta Gubernur Lemhannas, Andi Widjajanto, untuk melakukan kajian mendalam terkait pernyataan Bung Karno dan fakta-fakta sejarah yang ada, agar masyarakat dapat memahami konteks dan kebenaran di balik peristiwa 1965.