Madilog: Pemikiran Tan Malaka Melawan Logika Mistis
Sumber Foto: GOnews.id
Logika Fakta

Madilog: Pemikiran Tan Malaka Melawan Logika Mistis

Wabah kebodohan kolektif dapat muncul dari satu sumber utama: cara berpikir yang keliru. Dalam karyanya yang berjudul Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika), Tan Malaka secara tegas mengkritik logika mistis yang mengakar dalam pola pikir masyarakat Indonesia. Ia berpendapat bahwa alih-alih menyelesaikan masalah dengan pendekatan rasional, seringkali kita lebih memilih untuk menyembunyikan ketidaktahuan dengan mitos dan asumsi yang tidak berdasar.

Tan Malaka menegaskan bahwa solusi yang nyata hanya dapat ditemukan melalui pemahaman realitas yang tepat. Menurutnya, membangun masyarakat yang adil tidak cukup hanya dengan harapan kosong atau larangan budaya yang tidak dapat diuji kebenarannya. "Kalau tidak tahu, katakan saja tidak tahu. Jangan mengarang jawaban dengan logika mistika," tegasnya, menolak sikap intelektual yang enggan berpikir kritis.

Logika mistis, menurut Tan Malaka, adalah kebiasaan menjawab pertanyaan konkret dengan penjelasan yang kabur, yang meskipun disampaikan dengan keyakinan, tetap tidak memiliki bukti yang jelas. Inilah yang menjadi akar dari stagnasi intelektual, di mana masyarakat lebih percaya pada takhayul dibandingkan dengan metode ilmiah yang valid.

Di sisi lain, konsep madilog yang diusulkan oleh Tan Malaka merupakan jalan keluar dari permasalahan ini. Melalui pendekatan materialisme dialektika, ia menawarkan kerangka berpikir yang berlandaskan fakta, menyusun hubungan sebab-akibat secara rasional, dan menolak asumsi yang tidak teruji. Dalam kerangka ini, tidak ada kebenaran tanpa adanya pembuktian.

Aspek budaya pun tidak luput dari kritik Tan Malaka. Ia membedakan antara dua aspek budaya: aspek kebenaran dan aspek kebaikan. Aspek kebenaran, seperti fenomena alam (misalnya, gunung meletus), tidak bisa dijawab dengan mitos. Sementara itu, aspek kebaikan, seperti larangan adat, tidak bisa dijadikan sebagai standar untuk menentukan kebenaran ilmiah.

Tan Malaka juga mengingatkan bahwa budaya yang tidak dikritik akan mengalami kebusukan. Dalam tulisannya, ia menyindir cara berpikir tradisional yang mengandalkan hantu dan dewa sebagai dasar pengetahuan. "Kini, tidak ada intelektual sejati yang masih menggantungkan pemahaman pada kekuatan supranatural," ujar Tan Malaka.

Melalui Madilog, Tan Malaka mengajak pembaca untuk merevolusi cara berpikir. Ia mendorong setiap individu untuk berani menolak mitos, membongkar dogma, dan merumuskan strategi perubahan yang berbasis pada ilmu pengetahuan. Tanpa keberanian intelektual, keadilan hanya akan menjadi utopia yang terus-menerus ditunda.