Kontroversi Proyek Geotermal di Poco Leok: Suara Rakyat yang Terabaikan
Polemik Proyek Panas Bumi di Flores dan Lembata
Polemik mengenai proyek panas bumi di Flores dan Lembata, khususnya di Poco Leok, Kabupaten Manggarai, terus berlanjut. Selama empat tahun terakhir, masyarakat setempat telah menolak rencana perluasan PLTP Ulumbu oleh PT PLN (Persero) dan anak usahanya. Penolakan ini berakar dari kekhawatiran akan dampak negatif proyek terhadap hutan, sumber mata air, serta keberlangsungan hidup komunitas agraris di wilayah tersebut.
Kunjungan Gubernur dan Tanggapan Masyarakat
Pada 16 Juli 2025, Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, melakukan kunjungan mendadak ke Desa Lungar, yang terletak di sekitar area eksplorasi. Namun, kunjungan tersebut tidak hanya menarik perhatian karena kehadirannya, tetapi juga karena kedatangannya yang dikawal oleh aparat bersenjata. Hal ini menimbulkan kesan bahwa kunjungan tersebut lebih merupakan demonstrasi kekuasaan daripada upaya untuk mendengarkan suara masyarakat.
Pernyataan Kontroversial Gubernur
Selama kunjungan, Laka Lena mengeluarkan sejumlah pernyataan yang mengundang kritik. Ia menyatakan bahwa penolakan warga terhadap proyek geotermal telah "didisain" oleh pihak tertentu, berdasarkan penemuan spanduk penolakan yang ditulis dalam bahasa Inggris. Pernyataan ini dinilai merendahkan kecerdasan masyarakat dan menunjukkan pandangan kolonial yang menganggap rakyat sebagai massa pasif.
Lebih lanjut, Laka Lena juga meminta agar kelompok penolak menunjukkan "kepala" dari aksi protes, yang dipandang sebagai ancaman terselubung di tengah sejarah panjang kriminalisasi terhadap aktivis lingkungan dan jurnalis di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya bersikap antikritik, tetapi juga mengintimidasi suara-suara yang menentang kebijakan mereka.
Manipulasi Narasi dan Pengabaian Hak Masyarakat
Gubernur juga mengklaim bahwa PLTP Ulumbu telah beroperasi selama 13 tahun tanpa masalah, yang dianggap sebagai bukti keberhasilan proyek. Namun, banyak warga di sekitar area tersebut merasakan dampak negatif, seperti gangguan terhadap sumber air dan penurunan hasil pertanian. Tindakan Laka Lena yang hanya mendengarkan suara sebagian orang dalam waktu singkat dinilai sebagai manipulasi narasi yang berbahaya.
Refleksi Terhadap Demokrasi
Kasus di Poco Leok mencerminkan tantangan yang dihadapi demokrasi di Indonesia. Meskipun sistem demokrasi memberikan hak untuk memilih, sering kali hal itu menghasilkan pemimpin yang tidak paham akan kebutuhan masyarakat. Gubernur Laka Lena, dengan sikap dan pernyataannya, menunjukkan bahwa kemampuan berkomunikasi dan empati terhadap rakyat tidak selalu sejalan dengan posisi kekuasaan.
Kesimpulan
Proyek geotermal di Poco Leok bukanlah sekadar isu pembangunan, tetapi mencerminkan perlunya penghormatan terhadap hak dasar masyarakat untuk hidup dan berpartisipasi dalam keputusan yang memengaruhi hidup mereka. Dalam konteks ini, demokrasi seharusnya memberikan ruang bagi semua lapisan masyarakat untuk bersuara, bukan menjadi alat untuk memperkuat dominasi pihak-pihak tertentu.




