Ketidakadilan Moral: Mengapa Perempuan Selalu Jadi Sasaran Penghakiman?
Sumber Foto: Kompasiana.com
Sosial

Ketidakadilan Moral: Mengapa Perempuan Selalu Jadi Sasaran Penghakiman?

Tidak ada kata yang lebih cepat menempel pada perempuan selain kata "rusak." Ia diucapkan dengan mudah, diwariskan tanpa dipikirkan, dan diterima seolah-olah sebagai kebenaran. Padahal jarang sekali kita bertanya, siapa yang menentukan kerusakan itu, dan mengapa ukurannya selalu ditujukan kepada perempuan?Sebuah percakapan ringan di kedai kopi terkadang menyisakan pertanyaan yang tidak ringan. Di tengah obrolan santai, seorang mahasiswa berkata bahwa semakin sulit menemukan perempuan yang makin utuh di zaman sekarang. Alasannya beragam: pergaulan bebas, rokok, alkohol, bahkan praktik prostitusi, baik offline maupun online. Kalimat itu terdengar biasa. Terlalu biasa, justru karena sering dicap tanpa pernah dipertanyakan.

Namun dari sana muncul satu pertanyaan sederhana: mengapa kata "rusak" selalu dialamatkan kepada perempuan?

Dalam kehidupan sosial Indonesia, kata "rusak" bukan sekedar deskripsi perilaku. Ia adalah label moral. Masalahnya, label ini tidak bekerja secara netral. Perempuan yang merokok dianggap kehilangan citra positif, sementara laki -laki merokok dianggap memiliki kebiasaan. Perempuan yang aktif secara seksual dicap tidak bermoral, sedangkan laki-laki dengan perilaku serupa justru sering mendapat pengakuan sosial. Standar yang digunakan sama, namun berbeda dalam penilaian.

Di titik ini, kata "rusak" tidak lagi berbicara tentang tindakan, melainkan tentang siapa pelakunya.

Sejak lama, tubuh perempuan ditempatkan sebagai simbol kehormatan sosial. Kehormatan keluarga, norma budaya, bahkan moralitas masyarakat, kerap dilekatkan pada perilakunya perempatan. Akibat, pengawasan moral menjadi tidak seimbang. Perempuan dinilai, dan dihakimi melalui standar kesucian, sementara laki-laki dinilai melalui keberhasilan atau kegagalannya secara sosial dan ekonomi.

Situasi ini melahirkan standar ganda. Perilaku yang namun penilaian yang berbeda. Moralitas berubah menjadi alat kontrol, bukan refleksi etika bersama.

Sumber: Pinterest

Hal ini bukan berarti perilaku destruktif seperti penyalahgunaan narkoba, eksploitasi tubuh, atau gaya hidup merugikan diri sendiri harus dibenarkan . Masalah-masalah tersebut tetap nyata dan perlu dikritik. Namun persoalannya berbeda ketika kritik moral hanya diarahkan kepada satu gender. Jika suatu tindakan dianggap merusak, maka kerusakan itu harusnya berlaku secara universal, bukan selektif.Pertanyaan yang seharusnya diajukan bukan lagi apakah perempuan hari ini semakin "rusak", melainkan mengapa masyarakat masih menggunakan ukuran moral yang tidak adil. Ketika moralitas hanya menghakimi perempuan, yang dipertahankan bukan nilai, melainkan ketimpangan.

Moral yang sehat tidak diukur dari tubuh siapa yang melanggar norma, tetapi dari konsistensi nilai yang diterapkan kepada semua orang.Tanpa itu, moralitas hanya menjadi bahasa lain dari penghakiman sosial yang timpang.

Selama standar moral hanya dibebankan kepada satu gender, yang kita pelihara bukan lagi nilai, melainkan ketimpangan yang terus diwariskan.