RRI.CO.ID, Pontianak – Kontribusi kepemimpinan perempuan dalam mewujudkan kesetaraan gender menjadi sorotan dalam program dialog interaktif “Ronda” di RRI Pro 2 Pontianak, Selasa 10 Februari 2026. Diskusi ini menghadirkan sudut pandang perempuan dan laki-laki tentang kepemimpinan yang inklusif dan berkeadilan.
Putri Wulandari, menegaskan bahwa masih banyak mitos keliru terkait perempuan sebagai pemimpin. Menurutnya, anggapan bahwa perempuan memimpin dengan emosi justru perlu diluruskan.
“Emosi bukan kelemahan, tetapi bagian dari emotional intelligence. Dalam kepemimpinan, kepekaan emosi justru membantu memahami situasi dan mengambil keputusan yang lebih manusiawi,” ujarnya.
Putri yang saat ini menjabat sebagai pimpinan organisasi mahasiswa tingkat daerah menambahkan bahwa kepemimpinan tidak selalu soal posisi struktural.
“Memimpin juga berarti memengaruhi cara berpikir, memberi arah, dan menumbuhkan kesadaran. Itu bisa dilakukan siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan,” jelasnya.
Ia juga menyoroti kesalahpahaman tentang kesetaraan gender yang sering dianggap hanya tanggung jawab perempuan.
“Kesetaraan gender bukan perjuangan satu pihak. Ketika laki-laki dan perempuan saling mendukung, maka lingkungan kerja dan organisasi akan jauh lebih sehat,” katanya.
Pandangan serupa disampaikan Maulana Raul Arteta, yang berbagi pengalaman bekerja dalam komunitas dengan pemimpin perempuan. Ia menekankan pentingnya empati dan saling memahami dalam tim.
“Dalam organisasi itu bukan soal siapa yang memimpin, tapi bagaimana kita saling mendukung. Kalau ada yang sedang turun, tugas kita bukan menghakimi, tapi membackup,” ungkapnya.
Dalam diskusi tersebut, Putri juga mengutip pandangan tokoh inspiratif Aisyah Dahlan, yang kerap menekankan bahwa perbedaan biologis dan cara berpikir laki-laki serta perempuan bukan alasan untuk diskriminasi, melainkan potensi untuk saling melengkapi.
Melalui dialog ini, para narasumber sepakat bahwa perubahan stigma tentang kepemimpinan perempuan harus dimulai dari edukasi, keteladanan, dan pemanfaatan media sosial sebagai ruang penyebaran nilai positif. Kesetaraan gender dinilai bukan sekadar wacana, melainkan kunci membangun peradaban yang adil dan berkemajuan.