Seoul, Korea Selatan - Dalam beberapa tahun terakhir, Korea Selatan sering disebut sebagai "laboratorium kegagalan demografi" akibat tingkat kesuburan yang terendah di dunia. Banyak pengamat memprediksi bahwa negara ini akan mengalami penurunan populasi yang signifikan. Namun, baru-baru ini, muncul tanda-tanda yang mengejutkan dengan adanya lonjakan angka kelahiran.
Berdasarkan data terbaru dari kementerian statistik Korea Selatan, pada bulan Februari lalu tercatat sebanyak 23.000 bayi lahir, yang merupakan angka tertinggi dalam tujuh tahun terakhir untuk bulan tersebut. Pertumbuhan tahunan mencapai 13,6 persen, menjadikannya lonjakan terbesar sejak pencatatan data dimulai pada tahun 1981.
Menurut banyak pihak, salah satu penyebab utama peningkatan angka kelahiran ini adalah insentif finansial yang diberikan oleh pemerintah. Program-program yang ditawarkan meliputi:
Kim Woo-jin, seorang pekerja kantoran berusia 33 tahun, mengungkapkan bahwa bantuan tersebut sangat membantu dalam meringankan beban keuangan keluarga.
Meskipun ada optimisme dari peningkatan angka kelahiran, beberapa individu merasa khawatir. Kim Su-jin, seorang pekerja lepas di industri musik, menekankan bahwa masalah ini lebih kompleks daripada sekadar bantuan finansial. Ia mengungkapkan kekhawatirannya tentang biaya pendidikan yang tinggi dan potensi ancaman dari kecerdasan buatan (AI) terhadap lapangan kerja.
Para ahli demografi berspekulasi bahwa peningkatan ini mungkin disebabkan oleh:
Lee Sang-lim, seorang ahli demografi dari Seoul National University (SNU), memperingatkan agar masyarakat tidak terlalu cepat merayakan peningkatan ini. Ia berpendapat bahwa peningkatan angka kelahiran bisa jadi hanya efek sementara dari pasangan yang menunda pernikahan selama masa pandemi COVID-19. Tanpa kebijakan yang berkelanjutan, ia khawatir angka kelahiran dapat kembali menurun setelah kelompok usia subur saat ini melampaui masa puncaknya.