Kebijakan Masuk Sekolah Jam 5 Pagi di NTT: Alasan Gubernur dan Respons Pengamat
Sumber Foto: Tribunnews.com
Logika Fakta

Kebijakan Masuk Sekolah Jam 5 Pagi di NTT: Alasan Gubernur dan Respons Pengamat

Kebijakan untuk memulai kegiatan belajar mengajar di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada pukul 5 pagi telah diterapkan di sejumlah sekolah. Kebijakan ini ditetapkan oleh Gubernur NTT, Viktor Laiskodat, dan memicu beragam reaksi dari masyarakat, baik dukungan maupun penolakan.

Gubernur Viktor Laiskodat menjelaskan bahwa keputusan ini diambil setelah melakukan diskusi dengan kepala sekolah dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT. Ia mengungkapkan bahwa salah satu latar belakang kebijakan ini adalah rendahnya jumlah lulusan SMA sederajat dari NTT yang diterima di perguruan tinggi ternama di Pulau Jawa, seperti Universitas Indonesia dan Universitas Gadjah Mada.

“Kok tidak ada yang tembus UI 200 orang, UGM sekian orang, ITS?” ungkap Viktor, merujuk pada pentingnya meningkatkan kualitas pendidikan di daerah tersebut.

Selain itu, Viktor juga menyoroti faktor anggaran pendidikan, di mana NTT mengalokasikan 50 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk sektor pendidikan. Hal ini, menurutnya, memerlukan desain kebijakan khusus agar anggaran tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal.

Dua sekolah menengah atas yang telah melaporkan kesiapan untuk melaksanakan kebijakan ini adalah SMA 1 Kupang dan SMA 6 Kupang. Meskipun demikian, kebijakan ini tetap menuai kritik dari beberapa pihak yang menyebutnya sebagai kesesatan logika, mengingat tantangan yang dihadapi siswa dalam memulai aktivitas belajar di pagi buta.

Dengan adanya kebijakan ini, diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan di NTT dan mempersiapkan lulusan yang lebih kompetitif di tingkat nasional.