Logika News - Dosen Fakultas Teknik Universitas Tidar (Untidar) mengembangkan sebuah teknologi bernama Gasification on Demand (Gasmod) yang mampu mengubah sampah hijau perkotaan seperti daun dan ranting menjadi gas energi.
Inovasi ini dikembangkan sebagai solusi pengelolaan sampah ramah lingkungan sekaligus sumber energi alternatif bagi masyarakat.
Sampah dedaunan yang sebelumnya dibuang ke TPA kini dapat dimanfaatkan kembali melalui proses gasifikasi. Teknologi tersebut bekerja dengan memanfaatkan sampah organik kering seperti daun, ranting, dan kayu kecil.
Alat tersebut, kata dia, bisa digunakan sebagai solusi untuk memanfaatkan atau merubah sampah menjadi energi. "Sampah yang kita gunakan berasal dari dedaunan dan ranting yang selama ini dari pemkot dibuang ke TPSA," ujar Dosen Fakultas Teknik Untidar, Arif Rahman, Kamis (5/3).
Melalui teknologi Gasmod, sampah hijau yang sebelumnya tidak bernilai kini dapat dikonversi menjadi gas yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan energi. Gas yang dihasilkan dapat digunakan untuk kebutuhan memasak maupun untuk menghasilkan energi listrik.
Pada tahap awal pengembangannya, listrik dari hasil konversi sampah tersebut dimanfaatkan untuk menyuplai kebutuhan energi di fasilitas pengolahan sampah, seperti TPS3R. "Energi yang dihasilkan ada dalam bentuk gas yang bisa dimanfaatkan untuk memasak ataupun untuk menghasilkan listrik," jelasnya.
Daun atau ranting yang masuk harus dikeringkan terlebih dahulu hingga kadar airnya tidak lebih dari 20 persen. Proses ini biasanya memerlukan waktu antara satu hingga tiga hari.
Setelah kering, sampah daun kemudian dicacah hingga berukuran kecil, sekitar satu hingga dua sentimeter, agar lebih mudah diproses di dalam reaktor. Material yang telah dicacah kemudian dimasukkan ke dalam reaktor gasifikasi, tempat terjadinya proses konversi termokimia antara bahan bakar dan udara.
Di dalam reaktor, lanjut dia, terjadi proses pembakaran parsial, yakni pembakaran dengan jumlah udara yang lebih sedikit dibandingkan bahan bakar. Proses tersebut menghasilkan gas karbon monoksida yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi.
Lantaran jumlah udaranya lebih sedikit, gas yang dihasilkan bukan karbon dioksida, tetapi karbon monoksida. "Gas ini kemudian dimurnikan dan disimpan dalam wadah bertekanan sebelum dimanfaatkan," bebernya.
Meski tahap pengeringan membutuhkan waktu beberapa hari, proses konversi di dalam reaktor berlangsung cukup cepat. "Setelah masuk reaktor, hanya butuh waktu sekitar 60 menit untuk menghasilkan gas," sambungnya.
Jika dioperasikan selama lima hingga enam jam sehari, alat tersebut mampu mengolah sekitar 300 hingga 400 kilogram sampah daun setiap hari.
Dari jumlah tersebut, produksi gas yang dihasilkan relatif sebanding dengan berat bahan bakunya. "Dari 1 kilogram sampah kering itu setidaknya akan menghasilkan sekitar 1 kilogram gas," paparnya.