Inklusivitas Kecantikan: Tren Sementara atau Perubahan Nyata?
Lifestyle

Inklusivitas Kecantikan: Tren Sementara atau Perubahan Nyata?

Ada masa ketika tubuh Gemat terasa "pas” dengan kebutuhan industri kecantikan dan fesyen. Bukan karena tubuhnya berubah, melainkan ada pergeseran cara industri memandang perempuan bertubuh gemuk seperti dirinya.

Gemat adalah pekerja seni sekaligus influencer yang sejak kecil hidup di seberang standar kecantikan arus utama. Di media sosial, ia kerap menyuarakan penerimaan diri, berangkat dari keyakinan sederhana bahwa tidak ada orang yang pantas menerima kebencian, khususnya dari diri sendiri.

Perubahan terasa nyata ketika narasi body positivity menguat, terutama pada periode 2020 hingga 2022. Bentuk tubuh yang sebelumnya jarang mendapat ruang justru mendapat panggung. Tawaran kerja untuk Gemat pun berdatangan, dari pemotretan hingga menjadi wajah kampanye merek yang ingin tampil lebih inklusif.

Namun, laju itu tidak bertahan lama. Memasuki 2023, ritme kerja Gemat melambat drastis. "Tadinya tuh pemotretan melulu, banyak banget. Tiba-tiba tahun 2023 enggak ada,” kata Gemat kepada DW.

Pengalaman itu membuat ia sadar bahwa standar kecantikan yang inklusif kerap hadir sebagai tren, bukan perubahan yang mengakar. Ketika narasi bergeser, standar lama perlahan kembali menguat.

"Pas tren body positivity itu menurun, perbandingannya jadi beda banget,” jelasnya. "Benar-benar dibelah antara seperti apa yang cantik dan yang enggak cantik. Menurut aku itu jahat.”

Standar cantik dan inklusivitas simbolik

Pola yang dialami Gemat bukan kebetulan. Menurut Pakar Komunikasi dan Budaya Universitas Indonesia, Firman Kurniawan, standar kecantikan di industri kerap dibentuk bukan untuk merayakan keberagaman, melainkan untuk efisiensi pasar.

"Dalam pemasaran, yang dicari itu efisiensi. Kalau selera dibiarkan beragam, industri akan kesulitan. Maka diciptakan standar, cantik itu seperti ini, tubuh ideal itu seperti ini,” jelas Firman.

Standar itu, lanjut Firman, memudahkan industri memproduksi dan menjual barang secara massal, dari kosmetik, perawatan kulit, hingga fesyen. Inklusivitas, dalam konteks ini, sering kali dipakai sebagai strategi perluasan pasar.

Ia menjelaskan, ketika kelompok yang selama ini di luar standar mulai bersuara, industri merespons dengan merangkul mereka sesaat.

"Ketika pasarnya sudah terbentuk, standar lama dikembalikan. Namun, orang sudah telanjur bergantung pada brand -nya,” ujar Firman.

Dalam kajian sosial, pola ini dikenal sebagai tokenism atau token inclusivity. Istilah ini pertama kali diperkenalkan sosiolog Rosabeth Moss Kanter pada 1977 untuk menjelaskan bagaimana kelompok minoritas sering dihadirkan hanya sebagai simbol keberagaman, tanpa perubahan nyata dalam struktur.

Dalam industri kreatif dan pemasaran, token inclusivity terlihat ketika figur bertubuh nonstandar dimunculkan saat tren mendukung, lalu disingkirkan ketika pasar kembali ke selera lama. Inklusivitas berfungsi sebagai citra, bukan komitmen.

Pengalaman Gemat berada tepat di pola ini, di mana ia dirangkul ketika "laku” dan ditinggalkan ketika narasi berubah.

Menyerang ketidakpercayaan diri

Gemat juga melihat langsung bagaimana perubahan itu berdampak pada cara tubuh dipandang. Saat standar lama kembali, rasa tidak aman atau insecurity atas diri kembali dijadikan sasaran.

"Merek itu kreatif banget kalau urusan menyerang insecurity. Dari dulu sampai sekarang caranya sama, cuma bahasanya yang diganti,” kata Gemat.

Ia melihat bagaimana tubuh diperlakukan sebagai sesuatu yang selalu kurang dan insecurity diolah menjadi peluang jualan. Dari "ketiak hitam” sampai "badan belum ideal”, bahasa iklan menyusun masalah dan solusi dalam satu tarikan napas. Seolah ada yang perlu diperbaiki, dan jawabannya selalu tersedia dalam bentuk produk.

Bagi Gemat, di titik ini tubuh berhenti dilihat sebagai identitas utuh dan direduksi menjadi komoditas visual.

Psikolog Virginia Hanny menjelaskan bahwa standar kecantikan pada dasarnya adalah konstruksi sosial. Ia dibentuk oleh budaya, media, dan tren, serta selalu berubah. Masalah muncul ketika standar tersebut dijadikan satu-satunya tolok ukur nilai diri.

"Ketika seseorang menilai harga dirinya hanya dari penampilan fisik, dampaknya bisa ke kepercayaan diri, bahkan kesehatan mental,” kata Hanny.

Di era digital, tekanan ini semakin kuat. Menurut Hanny, semakin sering seseorang terpapar konten, risikonya semakin besar untuk merasa tidak puas dengan diri sendiri.

"Dampak itu bisa menjalar ke gangguan makan dan kecemasan, terutama pada remaja dan dewasa muda," lanjut Hanny.

Penerimaan diri yang tidak naif

Di tengah sistem itu, Gemat memilih posisi yang tidak hitam-putih. Ia menolak kebencian terhadap tubuh, tapi juga tidak memaknai penerimaan diri sebagai pembenaran untuk menutup mata pada realitas atau menjaga kesehatan.

"Intinya, nobody deserves hate,” kata Gemat.

Gemat jelas tidak menolak tubuhnya, tapi juga tidak menutup mata pada kekurangan dalam industri ia berada. Dalam kerja profesional, ia mulai lebih selektif, memilih kolaborasi dengan merek yang sejalan dengan nilai yang ia pegang tentang kecantikan dan representasi.

Gemat sadar, standar kecantikan akan terus berubah karena tren akan datang dan pergi. Namun, dampaknya terhadap rasa percaya diri tidak pernah benar-benar netral. Ia sadar di balik wacana penerimaan diri, ada struktur yang terus bergerak, dan tidak semua perubahan berarti sebuah kemajuan.

You can share this post!