Logika News - --FEB UB
MALANG, DISWAYMALANG.ID –Berkomitmen untuk terus bersinergi dengan sekitar masyarakat, Tim Kampung Lingkar Kampus (KLK) dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB) resmi memulai langkah penjajakan awal program KLK Berkelanjutan pada 4 Juni 2026 di Kelurahan Ketawanggede, Kota Malang. Langkah strategis ini diambil untuk mencakup kebutuhan nyata warga sebelum menyusun program pelatihan dan pendampingan yang tepat sasaran.
Tim KLK FEB UB yang digawangi oleh Virginia Nur Rahmanti, Fajar Andy Kurniawan, dan Sigit Hadi Wijaya ini langsung bergerak melakukan diskusi intensif dengan pihak Kelurahan Ketawanggede. Dari pertemuan tersebut, terungkap sejumlah tantangan nyata yang tengah dihadapi warga lingkar kampus saat ini.
Mulai isu pelajar psikologis (depresi) yang berdampak pada lingkungan sekitar, menurunnya okupansi rumah kos hingga lesunya sektor kuliner lokal. Fenomena tersebut salah satunya dipicu oleh perubahan perilaku konsumen.
Saat ini, orang tua pelajar cenderung lebih dominan dalam menentukan dan berburu fasilitas kos untuk anak mereka. Akibatnya, bisnis kos lokal yang sudah lama berdiri dan berdesain sederhana mulai kalah saing dengan rumah kos baru yang menawarkan fasilitas lebih mewah dan mentereng.
Transformasi Digital: Dongkrak Pendapatan Melalui Branding dan Teknologi
Merespons tantangan tersebut, FEB UB mempertajam fokus program KLK pada implementasi digital marketing dan penguatan branding. Bukan fokus ke rumah kos, namun bidang usaha warga yang lain. Langkah ini diharapkan mampu memperluas pasar dan mendongkrak pendapatan warga sekitar secara signifikan.
Ada empat poin rencana strategi digitalisasi yang akan digarap, antara lain:
Re-Branding Platform “Tawang Mart”: Mengoptimalkan wadah Tawang Mart yang digerakkan oleh ibu-ibu PKK sebagai salah satu pilar penopang ekonomi keluarga. Platform ini akan dibranding secara profesional agar jangkauannya lebih luas, baik di kalangan pelajar maupun masyarakat umum.
Pemasaran Produk Komunitas Unggulan: Mengintegrasikan pemasaran digital untuk memperkenalkan produk kreatif lokal yang potensial, seperti Kokedama (tanaman hias dengan media serabut kelapa) dan kerajinan manik-manik.
Masifisasi Sistem QR Code: Menyiasati kendala pemasaran fisik dengan menyebarkan kode QR secara masif di area strategis. Salah satu rencana besarnya adalah memasang media promosi berukuran 2 meter x 3 meter di gerbang keluar Watugong yang menjadi titik padat mobilitas pelajar.
Fleksibilitas Sistem Pembayaran: Kenyamanan kemudahan bertransaksi dengan mengombinasikan metode pembayaran digital dan sistem Cash on Delivery (COD) sesuai preferensi pasar lokal.
Solusi Pelatihan Fleksibel demi Program yang Berkelanjutan
Pihak Kelurahan Ketawanggede menyambut baik inisiatif ini dan menegaskan dukungan penuh dari warga. Belajar dari evaluasi program terdahulu—di mana banyak warga berhalangan hadir karena bentrok dengan jam kerja—tim FEB UB dan pihak kelurahan menyepakati formula baru demi menjaga program yang tidak diinginkan.
Ke depan, pelatihan akan dirancang dengan jadwal yang jauh lebih fleksibel dengan memanfaatkan ruang publik kelurahan yang berkapasitas besar. Selain itu, program ini juga akan mengintegrasikan pemberian stimulus atau insentif yang tepat guna menjaga motivasi, komitmen, serta konsistensi warga dalam jangka panjang.
Hasil penjajakan awal ini nantinya akan disusun menjadi program dan laporan resmi dari FEB UB untuk diserahkan kepada pihak Universitas Brawijaya. Laporan tersebut akan menjadi acuan roadmap aksi nyata program KLK FEB UB ke depan, sekaligus memastikan terciptanya sinergi yang harmonis dan berkelanjutan antara kampus dan masyarakat sekitar.