Logika News - DI Washington, politisi AS seperti J.D. Vance dan Marco Rubio berteriak garang: Iran haram punya bom nuklir! Di ujung setiap gertakan mereka, selalu ada nada ancaman. Gayanya mirip preman pasar Tanah Abang: ”Bayar uang keamanan atau lapakmu saya obrak-abrik.”
Namun, di Jenewa, Swiss, suasananya beda. Utusan AS dan Iran duduk manis di meja perundingan. Oman bertindak jadi makcomblang.
Diplomat Iran bilang negosiasinya ”sangat serius”. Tapi, di akhir kalimat, tetap saja mereka menuduh AS mencla-mencle.
Wajar kalau curiga. Ini ibarat main aplikasi kencan: swipe right sepakat ketemuan mesra, tapi pas nge-date, tangannya ngumpetin pistol di bawah meja.
Bagaimana tidak? AS datang bawa proposal damai, tapi di perairan Timur Tengah mereka menyiagakan dua kapal induk. Kata pakar geopolitik, itu namanya strategi maximum pressure dual track.
Kata orang: ini mah debt collector nyamar jadi tukang pos. Ngajak salaman, tapi kakinya siap nendang tulang kering.
TIGA LAPIS MASALAH
Perundingan geopolitik ini tidak sesederhana mematikan saklar reaktor.
Persoalannya berlapis-lapis. Kayak kue lapis legit, tapi yang ini bikin diabetes.
Lapis pertama: Teknis. Urusan nuklir, jumlah sentrifugal, pengayaan uranium. Itu gampang. Ada pengawas badan atom PBB (IAEA). Ibarat ibu-ibu beli sayur: tawar-menawar dikit, timbang, bayar, bungkus. Selesai.