Dilema ASN: Antara Angka Kredit dan Profesionalisme dalam Menulis
Nalar Data

Dilema ASN: Antara Angka Kredit dan Profesionalisme dalam Menulis

Logika News - Menulis menjadi aktivitas yang menantang bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) di Indonesia, seringkali dipandang lebih berat dibandingkan tugas administratif lainnya. Hal ini bukan disebabkan oleh ketidakmampuan teknis, melainkan oleh budaya birokrasi yang telah mengakar, menciptakan kebiasaan diam dan fokus pada angka kredit.

Awal Kejadian

Workshop Penulisan Karya Tulis Ilmiah yang berlangsung di NTB melibatkan para fungsional madya dari berbagai instansi, dengan tujuan meningkatkan kemampuan menulis ilmiah. Kolaborasi antara BPSDMD NTB dan LAN RI ini diharapkan dapat membantu ASN, namun pertanyaan mendasar muncul: mengapa pelatihan ini baru dilaksanakan sekarang?

Perkembangan

Budaya birokrasi yang mengedepankan kepatuhan prosedural dan pragmatisme angka kredit menyebabkan menulis hanya dianggap sebagai formalitas administratif. ASN yang produktif seringkali dibebani kerja berlebih, sementara ASN yang kurang aktif justru mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pelatihan. Hal ini menciptakan motivasi ekstrinsik dalam menulis, di mana kualitas tulisan tidak dianggap penting. Teori habitus dari Pierre Bourdieu menjelaskan bahwa pola pikir dan tindakan ASN terbentuk melalui sosialisasi institusional, di mana kreativitas dan penulisan kritis dianggap berisiko.

Kondisi Terakhir

Data menunjukkan bahwa minat baca dan kemampuan literasi ASN di Indonesia sangat rendah, peringkat literasi Indonesia berada di posisi ke-60 dari 61 negara. Budaya menulis yang tidak berkembang berdampak pada inovasi daerah. Ketiadaan tulisan berkualitas menyebabkan kebijakan publik tidak berbasis riset yang mendalam. Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan pendekatan sistemik yang mencakup integrasi menulis dalam sistem manajemen pengetahuan, keteladanan pimpinan, perubahan sistem insentif, pembentukan komunitas penulis, dan budaya literasi harian. Dengan demikian, diharapkan budaya menulis dapat diperkuat, dan birokrasi dapat bertransformasi menjadi organisasi yang lebih adaptif dan inovatif.

You can share this post!