Denny Siregar Soroti Keterlibatan Pelajar dalam Demo 11 April 2022, Singgung Pola Arab Spring
Sumber Foto: PinterPolitik.com
Logika Fakta

Denny Siregar Soroti Keterlibatan Pelajar dalam Demo 11 April 2022, Singgung Pola Arab Spring

Demonstrasi pada 11 April 2022 menjadi salah satu momen penyampaian kritik kepada pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Aksi tersebut juga diwarnai kericuhan dan perhatian publik sempat teralihkan oleh peristiwa pengeroyokan terhadap dosen sekaligus pegiat media sosial Ade Armando.

Di tengah sorotan terhadap demonstrasi itu, pegiat media sosial Denny Siregar menyampaikan pandangannya mengenai keterlibatan pelajar dalam aksi. Pernyataan tersebut disampaikan melalui video yang dipublikasikan di kanal YouTube CokroTV.

Tudingan soal pelibatan pelajar dan peningkatan tensi politik

Denny menilai kehadiran pelajar—yang ia sebut antara lain anak STM atau SMK—dalam demonstrasi dapat menjadi cara pihak oposisi meningkatkan tensi politik dari aksi protes. Ia juga menyebut pola pelibatan pelajar itu mirip dengan peristiwa Arab Spring sejak 2010, khususnya di Mesir.

Dalam penjelasannya, Denny secara spesifik menyinggung Ikhwanul Muslimin di Mesir yang, menurutnya, menggunakan pelajar untuk mendorong narasi protes. Ia menyatakan bahwa ketika ada korban jiwa dari kalangan pelajar, dampak politiknya dapat menjadi besar. Denny juga mengaitkan Ikhwanul Muslimin dengan dugaan relasi terhadap Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di Indonesia.

Denny kemudian menyebut bahwa pasca-peristiwa di Mesir, rezim berikutnya menetapkan demonstrasi mahasiswa yang merusak gedung atau fasilitas umum akan diadili melalui mahkamah militer. Ia merefleksikan hal tersebut dengan konteks aksi-aksi protes di Indonesia.

Alasan yang dikemukakan Denny

Denny menilai pelajar masih muda, berada dalam proses pencarian jati diri, dan emosinya belum stabil. Ia juga berpendapat pelajar dapat dijadikan “tameng” karena aparat akan kebingungan saat mengamankan aksi, mengingat status pelajar yang masih anak-anak.

Ia bahkan menyebut pelibatan anak-anak STM dalam demonstrasi di Indonesia “sudah pasti” merupakan pekerjaan Ikhwanul Muslimin karena pola yang ia anggap identik dengan yang terjadi di Mesir. Denny menyatakan kekhawatirannya apabila pelajar dijadikan alat untuk memperbesar eskalasi demonstrasi, misalnya jika ada pelajar yang menjadi korban.

Di bagian akhir, Denny meminta para pelajar fokus belajar dan mempertimbangkan jerih payah orang tua yang membiayai pendidikan mereka, sehingga tidak perlu ikut aksi yang membuat orang tua khawatir.

Catatan tentang generalisasi dan hak menyampaikan pendapat

Dalam ulasan yang memuat pernyataan Denny itu, disebutkan bahwa yang dimaksud pelajar merujuk pada anak sekolah, berbeda dengan mahasiswa. Ulasan tersebut juga menyoroti bahwa keterlibatan pelajar dalam demonstrasi tidak selalu dapat digeneralisasi sebagai sesuatu yang keliru, karena dalam sejarah berbagai negara, pelajar kerap terlibat dalam gerakan protes dan aktivisme.

Ulasan itu menilai bahwa menyimpulkan pelajar tidak semestinya ikut demonstrasi hanya karena usia dan kondisi emosional berpotensi menjadi generalisasi. Di sisi lain, juga diakui adanya fenomena sebagian pelajar ikut aksi sekadar untuk “meramaikan” situasi atau terdorong ajakan berantai di media sosial, yang dapat berujung pada tindakan tidak memahami substansi demonstrasi.

Soal tuduhan keterlibatan Ikhwanul Muslimin

Ulasan tersebut menyebut tuduhan Denny mengenai keterlibatan Ikhwanul Muslimin dalam menggerakkan pelajar di Indonesia masih bersifat asumsi, karena ia membandingkan pola di Mesir dengan konteks Indonesia tanpa memaparkan bukti relasi yang nyata. Penilaian itu juga menyebut Denny berpotensi terjebak pada kekeliruan berpikir berupa generalisasi.

Pada akhirnya, ulasan tersebut menekankan pentingnya sikap kritis masyarakat dalam menyikapi opini tokoh berpengaruh, terutama ketika pernyataan yang disampaikan berpotensi memengaruhi persepsi publik terhadap kebebasan menyampaikan pendapat.