AS Tegaskan Iran Tak Boleh Miliki Senjata Nuklir
Logika News - Washington (ANTARA) - Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance pada Rabu (25/2) mengatakan Iran tidak akan diizinkan untuk memperoleh senjata nuklir dan menegaskan bahwa jalur diplomasi tetap menjadi pilihan utama pemerintahan Donald Trump, meski opsi lain tetap terbuka.
Berbicara dalam wawancara di Fox News, Vance mengatakan bahwa Presiden Trump telah menyampaikan sikapnya dengan sangat jelas bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.
“Itu akan menjadi tujuan militer utama jika itu adalah jalur yang dipilihnya. Tentu saja, itulah yang sedang kami upayakan, seperti yang dikatakan presiden, melalui jalur diplomasi yang menjadi pilihan utama,” kata Vance.
Ia menambahkan bahwa meskipun negosiasi antara AS dan Iran sedang berlangsung, Trump telah menunjukkan kesediaannya untuk menggunakan langkah-langkah alternatif jika diperlukan.
Trump “akan berusaha mencapainya melalui jalur diplomatik,” kata Vance, seraya menambahkan bahwa presiden memiliki “sejumlah alat lain yang dapat digunakan untuk memastikan hal ini tidak terjadi.”
Adapun delegasi dari Iran dan AS dijadwalkan menggelar putaran ketiga perundingan nuklir tidak langsung di bawah mediasi Oman di Jenewa, Swiss, pada Kamis.
Vance mengatakan ia berharap pihak Iran menanggapi perundingan tersebut dengan serius.
“Kami duduk bersama untuk putaran pembicaraan diplomatik lainnya dengan Iran guna mencapai penyelesaian yang masuk akal. Namun penyelesaian yang masuk akal menuju tujuan apa? Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Sangat sederhana,” kata Vance.
“Kami berharap dapat mencapai resolusi yang baik tanpa menggunakan militer, tetapi jika kami harus menggunakan militer, presiden tentu memiliki hak tersebut,” tambahnya.
Pada Selasa, Trump mengklaim bahwa Iran sedang mengembangkan rudal jarak jauh yang dapat menjangkau AS. Namun Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pada Rabu mengatakan bahwa rudal negaranya bersifat defensif.




