Membedah Persepsi dan Kesalahan Pahami dalam Kasus Penipuan
Sumber Foto: Kompasiana.com
Nalar Data

Membedah Persepsi dan Kesalahan Pahami dalam Kasus Penipuan

Kasus Keraton Agung Sejagat dan Memiles, meskipun terjadi di lokasi dan pada individu yang berbeda, menunjukkan adanya kesamaan mendasar: motif ekonomi yang kuat di baliknya. Kedua kasus ini mencerminkan fenomena yang lebih luas terkait penipuan berkedok investasi.

Dengan banyaknya kasus serupa yang telah terjadi sebelumnya, muncul pertanyaan besar: mengapa kasus seperti ini masih bisa terjadi? Mengapa masih ada individu yang tertipu oleh cerita dan skema yang tampak tidak masuk akal bagi banyak orang?

Salah satu pertanyaan penting yang muncul adalah apakah pemahaman masyarakat tentang penipuan investasi masih kurang? Selain itu, mengapa individu dengan latar belakang sosial, ekonomi, dan intelektual yang memadai tetap rentan menjadi korban?

Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, mari kita telaah cara kerja pikiran manusia dalam memahami dan memproses informasi serta pengambilan keputusan. Ada banyak hal yang telah terlanjur kita percayai, meskipun pemahaman tersebut keliru.

Prof. Bobby Duffy dalam bukunya yang berjudul The Perils Of Perception: Why We're Wrong About Nearly Everything (2018) menjelaskan bagaimana mudahnya mispersepsi terbentuk dalam pikiran manusia saat menghadapi berbagai peristiwa. Sebagai contoh, jika seseorang secara acak mengajukan pertanyaan, "Apakah Tembok Besar Cina terlihat dari luar angkasa?", maka ada kemungkinan 50% bagi seseorang dari populasi umum untuk menjawab "Ya".

Jawaban ini bisa muncul dari beberapa kemungkinan. Pertama, individu tersebut mungkin tidak benar-benar memperhatikan data yang berkaitan dengan Tembok Besar Cina. Banyak yang sering mendengar betapa megah dan panjangnya tembok tersebut, sehingga mereka membangun gambaran mental yang tidak akurat tentang ukurannya.

Faktanya, lebar Tembok Besar Cina hanya sekitar 9 meter, yang tidak lebih besar dari rata-rata lebar rumah di Indonesia. Dengan pengetahuan ini, ide bahwa Tembok Besar Cina dapat terlihat dari luar angkasa menjadi sangat tidak masuk akal.

Kesalahan persepsi semacam ini dapat menjadi cerminan dari bagaimana informasi diproses dan dipahami oleh masyarakat. Memahami cara pikiran kita bekerja dalam konteks informasi dan keputusan sangat penting untuk mencegah terulangnya kasus penipuan di masa depan.