Memahami Body Shaming dan Kecantikan dalam Perspektif Islam
Bogor, 31 Oktober 2025 – Universitas Djuanda (UNIDA) kembali menyelenggarakan kegiatan rutin Kajian Muslimah yang digelar di Masjid Baitul Hamdi (MBH) UNIDA, Jumat (31/10/2025). Kegiatan kali ini menghadirkan Dosen Fakultas Ilmu Pangan Halal (FIPHAL) Universitas Djuanda (UNIDA), Dr. Erna Puspasari, S.Si., M.Si, dengan tema “ Fenomena Body Shaming dan Standar Kecantikan yang Tidak Realistis.”
Dalam pemaparannya, Dr. Erna Puspasari, S.Si., M.Si memaparkan bagaimana media sosial dan industri kecantikan membentuk persepsi keliru tentang keindahan fisik. Ia menjelaskan bahwa budaya populer sering mengagungkan citra tubuh langsing, kulit putih, wajah simetris, serta gaya hidup glamor, sehingga banyak perempuan merasa tidak berharga ketika tidak sesuai dengan ukuran tersebut.
“Fenomena body shaming muncul karena standar kecantikan didefinisikan secara sempit. Banyak yang akhirnya kehilangan rasa syukur dan percaya diri,” ujar Dr. Erna Puspasari, S.Si., M.Si dalam ceramahnya.
Menurutnya, perilaku body shaming menimbulkan dampak psikologis serius, seperti stres, gangguan citra tubuh, dan penurunan rasa percaya diri. Lebih jauh, hal ini berpotensi melemahkan hubungan sosial dan mengikis rasa hormat antarindividu.
Selain itu Islam menolak segala bentuk penghinaan terhadap sesama manusia. Ia mengutip sabda Rasulullah SAW, “Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya” (HR. Bukhari dan Muslim). Ucapan yang menyakiti perasaan orang lain, katanya, termasuk dosa besar, meskipun disampaikan dalam bentuk candaan.
Kajian tersebut juga menyoroti nilai-nilai spiritual dalam memandang keindahan. Berdasarkan firman Allah dalam QS. At-Tin ayat 4, manusia diciptakan dalam bentuk terbaik. Ibn Katsir dan Quraish Shihab menafsirkan ayat itu sebagai penegasan bahwa kesempurnaan manusia mencakup akal, moral, dan potensi kebaikan.
“Keindahan sejati dalam Islam terletak pada keseimbangan antara jasmani dan rohani. Setiap bentuk tubuh adalah karunia yang harus disyukuri,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, ia mengingatkan bahwa kehormatan manusia telah dijamin Allah sebagaimana disebut dalam QS. Al-Isra’ ayat 70: ‘Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam.’ Maka, mencela seseorang berarti merendahkan ciptaan Allah yang mulia.
Dalam penutup kajian, peserta diajak merenungkan pesan spiritual bahwa menjaga kebersihan diri adalah bagian dari iman, tetapi obsesi terhadap kecantikan fisik dapat menjauhkan seseorang dari rasa syukur. Acara diakhiri dengan pembacaan pesan dakwah yang menjadi inti kajian:
“Cintailah dirimu sebagaimana Allah menciptakanmu. Keindahan sejati bukan pada wajah yang menawan di hadapan manusia, tetapi pada hati yang bersih di hadapan Allah.” tutup Dr. Erna Puspasari, S.Si., M.Si.




