Kritik Filosofis Terhadap Logika Cartesian dalam Menghadapi Pemanasan Global
Sumber Foto: Kompasiana.com
Logika Utama

Kritik Filosofis Terhadap Logika Cartesian dalam Menghadapi Pemanasan Global

Filsafat

Rene Descartes, Logika Cartesian, dan Pemanasan Global

9 Juli 2025 20:57 Diperbarui: 9 Juli 2025 21:33 97 2 1

+

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Lihat foto

Jika berbicara tentang pemanasan global beserta bahaya yang menyertainya seperti angin badai, cuaca ekstrem, dan banjir bandang, orang hanya bersibuk pada aspek teknis mitigatif untuk mengatasi dampak maupun akibat buruknya. Fokus lebih pada hilir ketimbang hulu masalah.

Padahal, aspek hulu juga tidak kalah pentingnya untuk merumuskan strategi menghadapi pemanasan global secara lebih komprehensif. Adapun salah satu aspek hulu utama dari pemanasan global adalah aspek filosofis bernama logika Cartesian.

Logika Cartesian

Istilah logika Cartesian merujuk pada renungan kontemplatif dan meditasi filosofis dari filsuf Prancis Rene Descartes (1596-1650). Sebagaimana ia lukiskan dalam buku monumental Discourse on the Method (Norris Book, 2024), terutama di Bab IV, Descartes menyatakan bahwa semua objek yang tampil (presentations) atau masuk ke dalam pikirannya dalam kondisi terjaga sama tidak riilnya dengan objek yang masuk ke dalam pikirannya kala dia bermimpi.

Namun, Descartes melanjutkan, seiring pernyataan itu ia sampai pada kesadaran bahwa meskipun ia bisa saja berpikir semua presentasi itu palsu, tetap saja perlu (necessary) bagi dia yang sedang berpikir untuk memastikan dan tahu pasti bahwa dia ada. Jadilah, cogito ergo sum, yaitu saya berpikir, karena itu saya ada. Inilah satu kepastian yang lantas dicanangkan Descartes sebagai prinsip pertama dari filsafat pengetahuannya atau epistemologi.

Logika Cartesian jadinya adalah semacam egologi (diskursus tentang ego/kesadaran) yang menjadikan kesadaran manusia sebagai pusat semesta. Manusia adalah res cogitans (dia yang berpikir) tempat kepastian bermula, sementara alam disebut sebagai res extensa (perluasan pemikiran manusia).

Berpangkal dari logika Cartesian yang egosentris ini, alam jadinya hadir sebagai objek dan hanya ada untuk melayani kepentingan manusia. Alhasil, ini menumbuhkan bibit kesombongan dalam diri manusia dalam kaitannya dengan lingkungan serta berujung pada eksploitasi membabi buta manusia terhadap berbagai sumber daya hingga memantik krisis lingkungan besar di planet ini, termasuk pemanasan global (global warming).

Dengan kata lain, semangat dari logika Cartesian adalah spirit dominasi, manipulasi, dan eksploitasi terhadap alam yang terlalu berpusat pada kepentingan sempit manusia (antroposentrisme). Apalagi kesadaran dalam perspektif Cartesian tidak memerlukan tubuh, sehingga hasrat dominasinya bisa melintas batas melampaui kebutuhan maupun wilayah tubuh yang terbatas. Logika Cartesian lambat laun akan bermuara pada semangat eksploitasi global. Inilah yang nantinya dikritik oleh Merleau-Ponty bahwa kesadaran juga mesti bertubuh (Thomas Hidya Tjaya, Merleau-Ponty dan Kebertubuhan Manusia, KPG, 2020)

Tiga kritik

Karena itu, logika Cartesian sebagai salah satu hulu filosofis pemanasan global haruslah dikritik dan disubversi. Setidaknya ada tiga kritik utama. Pertama, logika dominasi Cartesian yang eksploitatif terhadap alam harus diseimbangkan dengan spirit restorasi dan pemeliharaan alam.

HALAMAN :

1

2

LIHAT SEMUA

Mohon tunggu...

Lihat Filsafat Selengkapnya

Beri Komentar

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

KIRIM

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

TAG

logika cartesian

cogito ergo sum

antroposentrisme

egologi

dominasi

pemanasan global

humaniora

filsafat