Inovasi Mocaf dari ITERA: Solusi Krisis Harga Singkong di Lampung
Teknologi

Inovasi Mocaf dari ITERA: Solusi Krisis Harga Singkong di Lampung

Logika News - 1. Tak lagi bergantung industri besar

Pugeg menjelaskan, Mocaf bisa menjadi alternatif model bisnis baru di luar skema industri besar.

Menurutnya dengan teknologi yang tepat, industri menengah tetap bisa memperoleh keuntungan meski membeli singkong sesuai harga dasar yang telah ditetapkan pemerintah daerah.

"Artinya, skema ini berpotensi menjaga harga di tingkat petani tetap stabil sekaligus membuka peluang usaha baru," jelasnya.

Ia menilai, kebutuhan pasar terhadap tepung berbasis singkong masih sangat terbuka. Konsumsi terigu nasional yang mencapai jutaan ton per tahun dinilai sebagai peluang besar.

"Jika sebagian kecil saja bisa disubstitusi dengan mocaf, serapan singkong rakyat bisa meningkat signifikan," ucapnya.

2. Lebih sehat dan punya nilai tambah tinggi

Tak hanya dari sisi ekonomi, mocaf juga diklaim memiliki keunggulan kesehatan. Produk ini bebas gluten, memiliki indeks glikemik lebih rendah dibandingkan beras, serta mengandung prebiotik yang baik untuk kesehatan pencernaan.

“Ini bukan sekadar karbohidrat untuk kenyang, tapi karbohidrat fungsional yang mendukung kesehatan,” katanya.

Merujuk tren pangan sehat yang terus meningkat, Pugeg menilai Mocaf bisa masuk ke pasar nutrisi, farmasi, hingga produk pangan khusus.

3. Sudah mulai dari desa

ITERA diketahui telah melakukan pendampingan kepada kelompok usaha di Lampung Timur dan Pesawaran. Melalui program KKN dan pembinaan alumni, mahasiswa didorong merintis usaha berbasis pengolahan singkong.

Rektor menjelaskan, saat ini, dua tim binaan masih terus dikawal agar bisa berkembang menjadi pelaku usaha mandiri.

"Pelatihan yang diberikan sejauh ini masih fokus pada produksi tepung Mocaf, belum sampai ke produk turunan seperti makanan olahan," jelasnya.

Ke depan, ITERA berencana memperluas pendampingan hingga ke pengembangan produk turunan agar nilai tambah semakin besar.

Pugeg optimistis, jika hilirisasi ini berjalan masif, bukan hanya harga singkong yang stabil, tetapi juga akan mendorong lahirnya petani dan pelaku usaha baru.

"Apalagi, Lampung masih memiliki ratusan ribu hektare lahan yang bisa dimanfaatkan, termasuk dengan pola tanam tumpang sari. Kalau ini konsisten dijalankan, singkong rakyat akan terserap dan ekonomi daerah bisa terdorong,” tuturnya.

You can share this post!