Indonesia Hapus Tarif 99% Barang AS, Arus Impor Diperkirakan Meningkat
Sumber Foto: Tirto.id
Internasional

Indonesia Hapus Tarif 99% Barang AS, Arus Impor Diperkirakan Meningkat

tirto.id - Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat (AS) akhirnya menuntaskan perjanjian tarif dagang antara kedua negara. Hal ini ditandai dengan penandatanganan Agreement on Reciprocal Tariff (ART), Kamis (20/2/2025) di Washington DC, AS.

Dalam komitmennya, pemerintah Indonesia akan menghapus hambatan tarif terhadap lebih dari 99 persen produk asal Amerika Serikat di seluruh sektor.

Kesepakatan ini mencakup berbagai komoditas utama, mulai dari produk pertanian, makanan laut, produk kesehatan, hingga otomotif, teknologi informasi, dan bahan kimia.

"Indonesia akan menghapus hambatan tarif terhadap lebih dari 99 persen produk Amerika Serikat yang diekspor ke Indonesia di seluruh sektor," demikian bunyi lembar fakta perjanjian tersebut.

Tidak hanya soal tarif, Indonesia juga menangani berbagai hambatan non-tarif yang selama ini dikeluhkan pelaku usaha AS. Beberapa di antaranya adalah membebaskan perusahaan AS dari kewajiban kandungan lokal (TKDN), menerima standar keselamatan kendaraan bermotor federal AS serta standar emisi, dan mengakui standar Food and Drug Administration (FDA) untuk alat kesehatan dan farmasi.

Indonesia juga berkomitmen menghapus persyaratan sertifikasi dan pelabelan yang dianggap memberatkan, serta menghapus kewajiban pemeriksaan prapengiriman. Dengan berbagai komitmen tersebut, arus barang dari AS akan semakin kencang masuk ke pasar Indonesia.

Sementara itu, di sektor pangan dan pertanian, Indonesia akan membebaskan produk-produk dari rezim lisensi impor serta menjamin transparansi terkait indikasi geografis, termasuk untuk produk daging dan keju.

Selain membuka akses pasar, perjanjian ini juga diikuti dengan kesepakatan jumbo senilai sekitar 33 miliar dolar AS. Angka tersebut mencakup pembelian komoditas energi AS senilai 15 miliar dolar AS, pengadaan pesawat komersial dan jasa penerbangan senilai 13,5 miliar dolar AS, termasuk dari Boeing, serta pembelian produk pertanian AS senilai lebih dari 4,5 miliar dolar AS.

Di sektor pertambangan, perusahaan Freeport-McMoRan menandatangani Nota Kesepahaman dengan Indonesia untuk memperpanjang izin dan memperluas operasi di distrik mineral Grasberg, tambang tembaga terbesar kedua di dunia. Kesepakatan ini diperkirakan menghasilkan pendapatan tahunan sekitar 10 miliar dolar AS.

Sedangkan di sisi sebaliknya, Indonesia masih tetap dikenakan tarif resiprokal sebesar 19 persen untuk barang kiriman ke AS. Pengecualian hanya berlaku untuk barang tertentu yang dikenakan tarif nol persen di antaranya minyak sawit, kopi, kakao, dan karet.

Namun, AS juga membuka peluang bagi produk tekstil dan pakaian Indonesia untuk mendapatkan tarif nol persen untuk volume tertentu, tetap hanya untuk produk yang berbahan baku kapas dan serat buatan asal AS.

Dalam keterangan yang sama juga disebutkan bahwa berbagai kesepakatan ini diambil untuk menambal defisit perdagangan AS dengan Indonesia. Saat ini, defisit perdagangan barang AS dengan Indonesia tercatat sebesar 23,7 miliar dolar AS pada 2025.

“Sebelum perjanjian ini, tarif rata-rata sederhana Indonesia adalah 8 persen, sementara tarif rata-rata AS hanya 3,3 persen,” tulis keterangan yang sama.

Adapun, dalam beberapa minggu ke depan, kedua negara akan menjalankan prosedur domestik yang diperlukan agar perjanjian ini mulai berlaku.