Harga Emas Dunia Capai Rekor, Dipicu Ketidakpastian Ekonomi Global
Sumber Foto: Pikiran Rakyat NTT
Logika Utama

Harga Emas Dunia Capai Rekor, Dipicu Ketidakpastian Ekonomi Global

PR NTT - Dalam dunia keuangan global, emas kembali menjadi bintang utama. Logam mulia ini tak hanya berkilau di etalase perhiasan, tapi juga di pasar investasi internasional.

Dalam kurun waktu kurang dari satu tahun, harga emas melonjak tajam, membuat banyak investor senior pun terkejut oleh laju kenaikannya yang begitu agresif.

Kenaikan ini bukan sekadar euforia sementara. Di balik lonjakan harga emas yang menembus level psikologis baru, tersimpan kombinasi faktor global yang kompleks mulai dari ekspektasi pemangkasan suku bunga, geopolitik yang memanas, hingga tren besar dedolarisasi yang kini tengah mengubah arah ekonomi dunia.

Tidak hanya investor individu, tetapi juga bank sentral di berbagai negara mulai berlomba membeli emas sebagai bagian dari strategi diversifikasi cadangan devisa.

Fenomena ini mendorong permintaan meningkat tajam dan memperkuat posisi emas sebagai aset pelindung utama di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Kini, para analis memperingatkan: reli harga emas kali ini bukan sekadar tren sesaat. Ada potensi besar bahwa harga logam mulia ini akan terus naik dalam dua tahun mendatang bahkan menuju level yang sebelumnya dianggap mustahil oleh banyak kalangan.

Harga emas dunia kembali mencetak rekor tertinggi baru, menembus US$4.200 per troy ounce, dan menjadi sorotan utama di pasar global. Lonjakan spektakuler ini memunculkan pertanyaan besar: apakah emas masih bisa terus menanjak lebih tinggi?

Data terbaru yang dikutip dari Reuters pada Kamis pagi, 16 Oktober 2025, menunjukkan harga emas di pasar spot naik 1,3% ke posisi US$4.195,35 per troy ounce, setelah sempat menyentuh puncak tertinggi US$4.217,95. Sementara emas berjangka AS untuk pengiriman Desember juga menguat 0,9% ke level US$4.201,60.

Sepanjang tahun 2025, harga emas telah naik lebih dari 60%, didorong oleh sejumlah faktor besar: ketegangan geopolitik, ekspektasi penurunan suku bunga, pembelian besar oleh bank sentral, arus investasi deras ke ETF berbasis emas, serta perubahan arah kebijakan global menuju aset aman.

Analis pasar dari City Index dan FOREX.com, Fawad Razaqzada, menilai pergerakan emas masih sangat kuat dan belum menunjukkan tanda-tanda melambat.

“Dengan ketegangan dagang AS–China yang kembali memanas dalam beberapa hari terakhir, investor memiliki alasan lebih untuk melindungi posisi mereka di pasar saham dengan beralih ke emas,” ujarnya.

Meski demikian, Razaqzada memperkirakan koreksi harga jangka pendek bisa saja terjadi untuk mengguncang investor lemah dan membuka peluang bagi pembeli baru.

Ia menegaskan, emas tetap menjadi lindung nilai tradisional terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi, terutama di tengah lingkungan suku bunga rendah.

Prediksi serupa datang dari lembaga keuangan besar dunia. Bank of America dan Societe Generale memperkirakan harga emas bisa mencapai US$5.000 per troy ounce pada 2026, sementara Standard Chartered bahkan menaikkan proyeksi rata-rata harga emas tahun depan menjadi US$4.488 per troy ounce.

“Reli ini masih memiliki ruang untuk berlanjut, meski koreksi jangka pendek bisa menjadi hal yang sehat bagi tren kenaikan jangka panjang,” jelas Suki Cooper, Kepala Riset Komoditas Global Standard Chartered.

Sementara itu, Phillip Streible, Kepala Strategi Pasar Blue Line Futures, juga optimistis tren kenaikan ini belum akan berhenti dalam waktu dekat.

Menurutnya, pembelian agresif bank sentral, arus investasi besar ke ETF emas, serta prospek penurunan suku bunga global menjadi faktor kunci yang menjaga momentum bullish emas.

“Kami melihat potensi harga menembus US$5.000 per ons pada akhir 2026,” tegasnya.

Reli emas kali ini bukan sekadar fenomena sesaat, melainkan cerminan dari pergeseran besar arah ekonomi global. Dengan ketegangan geopolitik yang terus meningkat dan kebijakan moneter yang kian longgar, emas tampaknya masih akan bersinar mungkin bahkan lebih terang dari sebelumnya.***