ByteDance Buka 100 Posisi AI di AS di Tengah Ketegangan Perang Teknologi
Sumber Foto: SWA.co.id
Internasional

ByteDance Buka 100 Posisi AI di AS di Tengah Ketegangan Perang Teknologi

Raksasa teknologi asal China, ByteDance Ltd., membuka lowongan untuk hampir 100 posisi di divisi kecerdasan buatan (AI) mereka di Amerika Serikat.

Langkah ini menegaskan ambisi ByteDance untuk bersaing dengan pemain-pemain AI terkemuka di AS, meskipun perusahaan tersebut masih dibayangi kekhawatiran keamanan nasional yang sudah bertahun-tahun disorot pembuat kebijakan dan regulator Amerika.

Lowongan tersebut — berdasarkan daftar pada laman karier ByteDance — ditujukan untuk Seed, tim AI yang didirikan pada 2023 dan kini memiliki laboratorium di AS, Singapura, dan China. Dari deskripsi posisi yang diunggah, peran yang dibuka mencakup berbagai tanggung jawab: mulai dari “memproduksi data internasional” untuk model bahasa besar (large language models /LLM) milik ByteDance, mengembangkan alat generatif untuk teks, gambar, dan video, melakukan riset untuk mengembangkan AI yang menyerupai manusia, hingga membangun model sains guna membantu penemuan serta desain obat-obatan.

Dilansir dari Bloomberg.com, Jumat (20/2), ekspansi perekrutan ByteDance — yang berbasis di Beijing — muncul setelah perusahaan mengumumkan kesepakatan yang telah lama dinantikan untuk menjual sebagian bisnis TikTok di AS kepada pemilik non-China. Kesepakatan ini dimaksudkan untuk merespons kekhawatiran keamanan nasional AS yang membayangi perusahaan selama lebih dari setengah dekade.

Sejumlah politisi khawatir ByteDance dapat memanfaatkan TikTok untuk mengumpulkan data warga Amerika, atau menggunakan algoritma rekomendasi konten aplikasi itu guna menyebarkan narasi yang menguntungkan kepemimpinan di Beijing. ByteDance menyatakan hal tersebut tidak pernah terjadi dan tidak akan terjadi.

Dominasi AI dan kontroversi HAKI

Di AS, ByteDance lebih dikenal sebagai perusahaan media sosial karena keterkaitannya dengan TikTok. Namun, perusahaan ini juga disebut sebagai pemain dominan di bidang AI — dan mulai dipandang sebagai ancaman bagi para pelopor AI Amerika.

Aplikasi chatbot ByteDance, Doubao — yang mirip dengan ChatGPT milik OpenAI, Claude milik Anthropic PBC, dan Gemini milik Google — menjadi chatbot AI yang paling banyak diunduh di China sepanjang 2025, menurut Bloomberg Intelligence. Pada Februari, ByteDance meluncurkan model generasi video AI baru, Seedance 2.0, serta model generasi gambar, Seedream 5.0.

Peluncuran itu — yang terjadi hanya beberapa minggu setelah kesepakatan TikTok rampung — kembali menempatkan ByteDance dalam sorotan di AS. Tokoh-tokoh besar Hollywood menuduh ByteDance mencuri hak kekayaan intelektual melalui Seedance, yang disebut telah digunakan untuk membuat akhir cerita alternatif dari acara televisi populer yang menjadi viral, serta adegan film palsu yang menampilkan aktor papan atas.

Dalam hitungan hari setelah peluncuran Seedance, Walt Disney Co. dan Paramount Skydance Corp. mengirimkan surat teguran (cease-and-desist) kepada ByteDance.

Selain itu, Motion Picture Association — yang beranggotakan perusahaan seperti Netflix Inc. dan Warner Bros. Discovery Inc. — menuntut ByteDance untuk menghentikan “penggunaan karya berhak cipta AS secara tidak sah dalam skala besar.”

“ByteDance menghormati hak kekayaan intelektual dan kami telah mendengar kekhawatiran mengenai Seedance 2.0,” tulis seorang juru bicara melalui email. “Kami mengambil langkah-langkah untuk memperkuat perlindungan saat ini sembari berupaya mencegah penggunaan kekayaan intelektual dan kemiripan wajah secara tidak sah oleh pengguna.” ByteDance tidak menanggapi pertanyaan mengenai lowongan pekerjaan AI tersebut.

Persaingan geopolitik AI

Kehadiran AI ByteDance yang kian berkembang di AS bertepatan dengan kekhawatiran yang lebih luas di kalangan pembuat kebijakan: bahwa China merupakan ancaman nyata bagi dominasi AI AS.

Meski produk AI China dan Amerika tidak selalu beroperasi di pasar yang sama, sebagian pejabat khawatir ketertinggalan dalam perlombaan AI akan memberi China pengaruh geopolitik dan keunggulan militer — yang pada akhirnya dipandang sebagai risiko keamanan nasional.

Pada kasus lain, produk China tersedia di AS sementara layanan Amerika diblokir di China. Kondisi ini dikhawatirkan memberi ruang bagi perusahaan China untuk merebut pangsa pasar, menyerap data, serta membentuk budaya dan wacana dengan cara yang tidak bisa dilakukan oleh pesaing Amerika mereka. Pemerintahan Trump juga menekankan pentingnya adopsi produk AI Amerika di luar negeri.

“Risikonya sangat tinggi: masa depan yang dipimpin AS yang menguntungkan dunia bebas, atau tatanan AI yang dipimpin China yang membentuk kembali sistem global sesuai dengan nilai-nilai otoriter mereka,” kata Senator AS Pete Ricketts, seorang Republikan dari Nebraska, pada Desember dalam sidang mengenai perlombaan AI AS–China. “Perlombaan ini akan dimenangkan oleh siapa pun yang menarik talenta terbaik, menggunakan chip terbaik, dan melatih algoritma terbaik.”

Sejumlah pihak memandang kebangkitan ByteDance di dunia AI sebagai bagian dari persoalan tersebut. “ByteDance memiliki akses ke komputasi, data, dan modal yang sangat besar, ditambah dukungan eksplisit dari PKC (Partai Komunis China),” kata Aaron Bartnick, mantan pejabat kebijakan teknologi Gedung Putih era Biden. “Perusahaan ini memiliki semua bahan untuk menjadi kekuatan besar AI, jadi seharusnya tidak mengejutkan bagi pembuat kebijakan atau perusahaan Amerika bahwa mereka sekarang muncul sebagai salah satunya.”

Fokus pada sains dan kesehatan

Tim Seed ByteDance sedang merekrut di San Jose (California), Los Angeles, dan Seattle — kota-kota tempat TikTok juga memiliki kantor besar. ByteDance juga meluncurkan Seed Edge Research Initiative, yang berfokus pada pengembangan model kecerdasan umum: model yang digambarkan memiliki kemampuan belajar seperti manusia, kemampuan interaksi, dan kemahiran menggunakan alat.

Di saat yang sama, ByteDance meningkatkan upaya di bidang sains dengan merekrut talenta AS berlatar biologi, fisika, dan kimia. Targetnya adalah mengembangkan model presisi tinggi yang dapat mendorong terobosan dalam biologi dan penemuan obat. Bidang kesehatan dan penemuan obat juga menjadi area yang digarap agresif oleh para kompetitor AI Amerika.

CEO OpenAI, Sam Altman, mengumumkan OpenAI for Healthcare pada Januari, dan menyatakan bahwa perusahaannya mungkin mempertimbangkan untuk berinvestasi atau mensubsidi perusahaan yang menggunakan teknologi OpenAI untuk penemuan obat. Anthropic — yang baru-baru ini mengumumkan Claude for Life Sciences dan Claude for Healthcare — juga mendukung penggunaan AI-nya untuk mempercepat pengembangan obat-obatan. (*)