Sekolah Rakyat Dorong Budaya Numerasi untuk Pemberdayaan Masyarakat
Logika Utama

Sekolah Rakyat Dorong Budaya Numerasi untuk Pemberdayaan Masyarakat

RRI.CO.ID, Bandarlampung - Di tengah upaya pemerataan pendidikan nasional, sekolah rakyat kini dipandang sebagai garda terdepan dalam merangkul masyarakat kurang mampu. Melalui pendekatan yang inklusif, institusi ini diharapkan mampu mencetak generasi yang tidak hanya berpendidikan, tetapi juga memiliki logika berpikir yang kuat untuk memutus mata rantai kemiskinan.

Dr. Dina Apriani, M.Pd., tokoh dari Fatayat NU sekaligus Forum Puspa Lampung, menegaskan bahwa kunci utama perubahan ini terletak pada penguatan budaya numerasi. Menurutnya, sekolah rakyat memiliki fleksibilitas yang tidak dimiliki sekolah formal pada umumnya, terutama dalam menerapkan pendekatan etno-matematika atau pengajaran berbasis budaya lokal.

Dr. Dina menjelaskan bahwa numerasi seringkali disalahpahami hanya sebagai pelajaran berhitung yang membosankan. Padahal, numerasi dapat diajarkan dengan cara yang sangat dekat dengan keseharian anak-anak di komunitas.

"Sekolah rakyat itu inklusif dan dekat dengan komunitas. Kita bisa mengajarkan logika dan strategi lewat permainan tradisional seperti Congklak. Di sana ada konsep penjumlahan, pengurangan, hingga penyusunan strategi yang kompleks," ujar Dr. Dina.

Dengan menggunakan media yang akrab dengan kehidupan siswa, hambatan psikologis terhadap matematika dapat dikikis, sehingga anak-anak merasa lebih percaya diri dalam memecahkan masalah.

Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa tantangan terbesar dunia pendidikan saat ini adalah mengubah pola pikir pengajaran. Pola konvensional yang cenderung mengandalkan hafalan harus segera beralih menuju metode pemecahan masalah nyata (real-world problem solving).

Ia berharap sekolah rakyat dapat melahirkan individu yang:

Dr. Dina menekankan bahwa keberhasilan pendidikan tidak boleh hanya diukur dari angka-angka di rapor, melainkan dari sejauh mana ilmu tersebut dapat mengubah taraf hidup seseorang.

"Numerasi adalah sebuah perjalanan, bukan sekadar nilai di atas kertas. Ini adalah alat bagi anak-anak di daerah terpencil untuk membuka pintu masa depan yang lebih cerah," ucap Dr. Dina

You can share this post!