Kepala BSKDN Tekankan Pentingnya Learning Organization untuk Kinerja ASN
Sumber Foto: ANTARA News
Nasional

Kepala BSKDN Tekankan Pentingnya Learning Organization untuk Kinerja ASN

waktu baca 3 menit

Jakarta (ANTARA) - Kepala Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Yusharto Huntoyungo menekankan pentingnya membangun learning organization bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) sebagai fondasi penguatan kinerja dan daya adaptasi organisasi.

“Konsep learning organization menjadi sangat relevan bagi BSKDN sebagai organisasi kebijakan yang dituntut untuk terus belajar, beradaptasi, dan memperbaiki kualitas kinerjanya. Fifth discipline dari Peter Senge bisa kita pelajari guna menjadikan organisasi untuk terus bertumbuh," kata Yusharto dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.

Hal tersebut disampaikan usai kegiatan Peningkatan Kapasitas ASN di Lingkungan BSKDN dengan tema Membangun Learning Organization ASN melalui Teamwork Kolaboratif dan Kepemimpinan Transformatif yang berlangsung di Sentul Kabupaten Bogor.

Yusharto mengatakan, konsep learning organization tidak terlepas dari pemikiran Peter Senge dalam buku The Fifth Discipline, yang menekankan lima disiplin utama agar organisasi mampu terus bertumbuh dan beradaptasi menghadapi perubahan.

Dia menjelaskan, disiplin pertama yang ditekankan adalah personal mastery, yakni penguasaan penuh atas bidang tugas masing-masing ASN. Menurutnya, baik ASN struktural maupun fungsional dituntut untuk memahami dan menguasai perannya secara profesional sebagai dasar terbentuknya organisasi pembelajar.

"Di setiap posisi ini, kita harus mastery menguasai bidang tugas dan ini menjadi salah satu prasyarat untuk kita bisa melakukan learning organization," ujarnya.

Disiplin kedua adalah mental model, yaitu keselarasan cara berpikir individu dengan visi dan misi organisasi. Dirinya menekankan pentingnya menyatukan tujuan individu dengan tujuan organisasi agar seluruh elemen memiliki komitmen yang sama dalam mencapai kinerja terbaik.

Selanjutnya, shared vision menjadi disiplin ketiga yang dinilai krusial. Yusharto menegaskan kesamaan visi dari pimpinan hingga pelaksana hanya dapat dibangun melalui komunikasi dan koordinasi yang konsisten, sehingga tidak terjadi perbedaan arah dalam menjalankan kebijakan.

Berikutnya, disiplin keempat, team learning, menempatkan kerja tim sebagai bagian tak terpisahkan dari proses pembelajaran organisasi. ASN didorong untuk saling belajar, berbagi pengetahuan, dan bersama-sama mencapai tujuan organisasi secara kolektif.

Adapun disiplin kelima, system thinking, menuntut ASN untuk berpikir komprehensif dan tidak terjebak pada satu sudut pandang atau metode tertentu. Pendekatan ini memungkinkan penggabungan berbagai perspektif sebagai dasar pengambilan kebijakan yang lebih tepat.

“Dengan demikian lewat kegiatan ini saya berharap pemikiran awal dari fifth discipline yang melahirkan learning organization diikuti dengan pemikiran-pemikiran yang lain yang menunjang, fifth discipline ini akan terus kita kembangkan, pada organisasi kita," tambahnya.

Sementara itu, Deputi Bidang Penyelenggaraan Pengembangan Kapasitas ASN Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI, Tri Widodo W. Utomo dalam paparannya mengenai Teamwork dan Kepemimpinan Transformasional dalam Kerangka Learning Organization menegaskan, kendati konsep learning organization telah lama diperkenalkan, isu tersebut tetap relevan hingga saat ini. Pasalnya, masih banyak instansi dan ASN yang belum sepenuhnya memahami dan menerapkan prinsip organisasi pembelajar.

“Modal kapital itu bukan lagi segalanya. Yang menjadi penentu utama adalah skill, capabilities, dan knowledge of people,” ungkapnya, mengutip pemikiran Arie de Geus.

Dia menambahkan, tingginya kinerja suatu organisasi tidak selalu ditentukan oleh besarnya anggaran, melainkan oleh kualitas sumber daya manusia yang dimiliki. Oleh karena itu, penguatan kapasitas ASN melalui pembelajaran berkelanjutan menjadi kunci keberhasilan organisasi sektor publik.

Melalui kegiatan ini, BSKDN berharap lima disiplin learning organization dapat terus dikembangkan dan diinternalisasikan dalam budaya kerja ASN, sehingga mampu menciptakan organisasi yang adaptif, kolaboratif, dan berorientasi pada peningkatan kinerja berkelanjutan.

Baca juga: Kepala BSKDN: Hilirisasi riset kunci penguatan inovasi daerah

Baca juga: BSKDN Kemendagri tekankan pentingnya penerapan standar data

Pewarta: Fianda Sjofjan Rassat

Editor: Imam Budilaksono

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.