BRIN Perkenalkan Teknologi Inovatif Atasi Krisis Air di Indonesia
Jakarta – Humas BRIN. Inovasi teknologi pengolahan air berbasis efisiensi dan keberlanjutan menjadi solusi yang kian relevan. Apalagi, saat ini kebutuhan air bersih dan tantangan krisis air di berbagai daerah Indonesia meningkat.
Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sekaligus Inovator Teknologi Pengolahan Air Bersih, I Gede Wenten, mengatakan pengelolaan air bersih perlu memiliki konsep eco-efficient atau efisiensi ekologis. Konsep ini menekankan pemanfaatan sumber daya air yang maksimal dengan meminimalkan penggunaan energi, bahan kimia, lahan, dan biaya operasional.
“Prinsip utamanya adalah memproses air tanpa menimbulkan dampak lingkungan baru, sekaligus menjamin keberlanjutan pasokan air bagi masyarakat,” katanya, dalam webinar Diseminasi dan Pemanfaatan Teknologi Pengolahan Air Bersih di Daerah, Rabu (12/11).
Wenten melanjutkan, salah satu pendekatan dalam pengelolaan air bersih yang dikembangkan yaitu teknologi rainwater harvesting atau pemanenan air hujan dengan sistem remineralisasi. Air hujan yang relatif murni tersebut disaring, disimpan, kemudian diberi tambahan mineral alami seperti kapur dan magnesium agar layak diminum. Teknologi ini dinilai sangat potensial untuk wilayah yang masih memiliki curah hujan tinggi namun keterbatasan air tanah.
Wenten juga memperkenalkan Atmospheric Water Generator (AWG), alat untuk mengembunkan uap air dari udara lembab. Alat ini cocok untuk digunakan di daerah pesisir atau pulau terpencil yang tidak memiliki sumber air sama sekali.
Meskipun alat ini tergolong boros energi listrik, Wenten mengatakan teknologi ini menjadi alternatif solusi di wilayah terpencil yang sama sekali tidak memiliki sumber air. “Versi terbarunya bahkan dirancang menggunakan tenaga surya agar dapat berfungsi di daerah tanpa pasokan listrik maupun bahan bakar,” jelasnya.
Untuk wilayah pesisir dan daerah payau, Wenten mengatakan pengolahan air bersih dapat menggunakan teknologi solar still, yaitu sistem penguapan air laut dengan panas matahari. Konsep ini sangat sesuai bagi komunitas nelayan atau masyarakat pesisir yang kerap menghadapi keterbatasan air bersih.
“Dengan satu investasi, alat ini bisa berfungsi ganda yaitu menghasilkan air minum, garam, listrik sederhana dari turbin angin, dan bahkan tempat berteduh. Bahkan, jika dikembangkan secara masif, alat ini bisa menjadikan daerah pesisir sebagai penghasil garam sekaligus air bersih,” ujarnya.
Terkait kebutuhan air bersih dalam konteks kebencanaan, Wenten mengembangkan alat pengolah air dengan pompa sepeda. Pompa sepeda membran merupakan alat penyaring air yang tidak memerlukan listrik. Teknologi ini lahir dari kebutuhan air bersih saat penanganan bencana tsunami Aceh, ketika listrik dan bahan bakar sama sekali tidak tersedia.
Ia juga memperkenalkan Emergency Water Bag yang dirancang untuk menyediakan air bersih dalam operasi tanggap darurat bencana. Alat tersebut merupakan kantong plastik dengan membran hollow fiber kuat. Sistem kerjanya yaitu dengan cara memasukkan air kotor ke satu sisi dan nantinya air bersih layak minum keluar di sisi lainnya.
Untuk pengolahan air bersih skala besar, inovasi yang telah dikembangkan antara lain adalah non-modular membrane. Alat ini dapat ditanam di bawah tanah, sungai, atau reservoir PDAM. Sistem ini memanfaatkan tekanan air alami untuk mendorong proses filtrasi tanpa listrik dan intervensi manusia. “Tujuannya adalah menekan biaya energi sekaligus meningkatkan keandalan sistem air bersih di daerah dengan akses listrik terbatas,” jelas Wenten.
Teknologi lainnya adalah IGW Groundwater Spring, yaitu sistem kolam dengan membran tertanam yang meniru fungsi mata air. Wenten menjelaskan sistem ini bekerja dengan cara menempatkan lapisan batu mineral seperti magnesium, pasir silika, dan pasir besi di atas membran. Fungsinya adalah sebagai penyaring sekaligus antibakteri.
“Sistem ini juga memiliki kelebihan yaitu di permukaannya dapat ditanam sayuran hidroponik tanpa pupuk. Kemudian air yang merembes ke bawah akan menghasilkan air dengan kualitas setara mata air alami,” ujarnya. (mm/ed: tnt)




