AS Pertimbangkan Izin Produksi Minyak Venezuela, Peluang Investasi Meningkat
Sumber Foto: Liputan6.com
Internasional

AS Pertimbangkan Izin Produksi Minyak Venezuela, Peluang Investasi Meningkat

Liputan6.com, Jakarta - Amerika Serikat (AS) dikabarkan tengah mempertimbangkan kebijakan baru yang berpotensi membuka peluang besar bagi perusahaan minyak internasional untuk kembali beroperasi di Venezuela. Pemerintahan Presiden AS Donald Trump disebut dapat segera mengeluarkan izin umum yang memungkinkan perusahaan-perusahaan energi memproduksi minyak Venezuela.

Rencana ini muncul di tengah upaya pemulihan sektor energi Venezuela yang selama bertahun-tahun tertekan oleh sanksi ekonomi serta penurunan investasi. Kebijakan tersebut berpotensi menjadi titik balik bagi industri migas Venezuela sekaligus membuka peluang bisnis baru bagi perusahaan energi global. Demikian mengutip CNBC, Kamis (5/2/2026).

BACA JUGA: Indonesia Dilarang Bikin Kebijakan yang Bertentangan dengan Impor Bioetanol

Selama ini, aktivitas perusahaan asing di sektor minyak Venezuela dibatasi secara ketat oleh sanksi AS. Namun, pemerintah AS mulai menunjukkan sinyal pelonggaran melalui sejumlah lisensi baru yang memungkinkan perusahaan melakukan aktivitas perdagangan minyak Venezuela.

Jika izin produksi benar-benar diterbitkan, langkah ini diprediksi akan meningkatkan produksi minyak Venezuela secara signifikan dan memperkuat posisi negara tersebut di pasar energi global.

Selain itu, perubahan kebijakan ini juga terjadi bersamaan dengan reformasi sektor energi Venezuela yang memberikan ruang lebih luas bagi perusahaan swasta untuk beroperasi. Kombinasi kebijakan dari Washington dan reformasi di Caracas dinilai dapat meningkatkan daya tarik investasi di sektor minyak negara Amerika Selatan tersebut.

Saat ini, Chevron menjadi satu-satunya perusahaan energi Amerika Serikat yang diizinkan memproduksi minyak di Venezuela melalui lisensi khusus dari Departemen Keuangan AS. Perusahaan tersebut memiliki beberapa usaha patungan dengan perusahaan minyak milik negara, Petróleos de Venezuela (PDVSA).

Pemerintahan Trump juga disebut mendorong industri minyak untuk menginvestasikan setidaknya US$100 miliar guna memperbaiki infrastruktur energi Venezuela. Langkah ini dilakukan setelah AS menangkap mantan Presiden Nicolás Maduro dalam sebuah operasi pada awal Januari lalu.

Juru bicara Gedung Putih, Taylor Rogers, menyatakan bahwa pemerintah terus berupaya memastikan perusahaan minyak dapat melakukan investasi di sektor energi Venezuela. Pemerintah AS disebut bekerja untuk membuka peluang investasi infrastruktur energi di negara tersebut.

Lisensi Baru Mulai Dibuka

Pekan lalu, Departemen Keuangan AS telah mengeluarkan izin umum yang memungkinkan perusahaan-perusahaan Amerika melakukan berbagai aktivitas terkait minyak Venezuela. Aktivitas tersebut meliputi pembelian, penjualan, pengangkutan, hingga pemurnian minyak mentah Venezuela. Namun, izin tersebut belum mencakup kegiatan produksi hulu.

Sebelumnya, perusahaan-perusahaan AS dilarang melakukan aktivitas tersebut akibat sanksi ekonomi terhadap Venezuela. Kebijakan baru ini menunjukkan adanya perubahan pendekatan Washington terhadap sektor energi negara tersebut.

Respons Industri Energi Beragam

Respons pelaku industri terhadap peluang investasi di Venezuela masih beragam. CEO ExxonMobil Darren Woods menilai Venezuela membutuhkan reformasi besar dan belum sepenuhnya menarik untuk investasi. Hal tersebut dipengaruhi pengalaman perusahaan yang asetnya pernah disita oleh pemerintah Venezuela.

Sebaliknya, perusahaan eksplorasi minyak swasta dan produsen minyak serpih yang lebih kecil menunjukkan ketertarikan lebih besar terhadap peluang bisnis di negara tersebut.

CEO Chevron Mike Wirth menyatakan perusahaan berpotensi meningkatkan produksi minyak di Venezuela hingga 50 persen dalam waktu 18 hingga 24 bulan jika mendapat persetujuan dari pemerintah AS. Saat ini, Chevron memproduksi sekitar 250 ribu barel minyak per hari di Venezuela.

Reformasi Energi Venezuela

Perbesar

Pemerintah Venezuela juga telah mengesahkan reformasi kebijakan yang mengurangi kendali negara terhadap industri minyak. Reformasi tersebut memberikan otonomi yang lebih besar kepada perusahaan swasta untuk mengelola proyek energi.

Sebagai anggota pendiri Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), Venezuela diyakini memiliki cadangan minyak mentah terbesar di dunia. Reformasi sektor energi diharapkan mampu meningkatkan produksi nasional sekaligus menarik investor internasional.

Rencana penerbitan izin umum oleh AS berpotensi menjadi momentum kebangkitan industri minyak Venezuela. Namun, keberhasilan kebijakan tersebut masih bergantung pada stabilitas politik, kepastian regulasi, serta kesiapan perusahaan energi global dalam memanfaatkan peluang investasi yang muncul.